LGBT; Bagian Dari Budaya Indonesia

Posted: May 26, 2017 in puisiku, Story Of Life, Uncategorized
Tags: , ,

Sering dan bahkan terlalu sering saya mendapati rekan sejawat, teman sepergaulan, kolega kerja bahkan lini massa berkata “LGBT bukan budaya Indoneisa, LGBT adalah penyakit masyarakat Indonesia, mereka musuh kemanusiaan, musuh semua umat beragama…dst..dst..”

Saya awalnya mencoba tutup telinga dan tidak ambil perduli, tapi seiring maraknya peristiwa penggrebekan sarana dan atau aktifitas LBGT belakangan ini, penyerangan membabi buta terhadap kaum LGBT yang di generalisasi sedemikian rupa tersebut tak dipungkiri mengganggu saya.

Saya secara pribadi menyayangkan rekan-rekan sesama LGBT yang melampaui kebebasan yang pada ihwalnya memang sulit di dapatkan. Maksud saya, sudah lagi kita memang dibelenggu untuk menjadi diri kita sendiri di negeri ini, perilaku rekan-rekan sesama LGBT dalam berekspresi terlampau berani.

Mengadakan pesta seks menjadi pembenaran untuk menyalurkan nafsu birahi yang sejatinya memang hak azasi hanya saja di lakukan dengan mengorbankan norma-norma sosial yang sepatutnya di hargai.
Salah..? jelas menurut saya salah. Meski harus di akui, perihal pesta seks ini bukan hanya dilakukan oleh kaum LGBT. Kaum heteroseksual pun kerap melakukan pesta sejenis ini, hanya saja karena mereka di labeli “kaum normal” maka persepsi masyarakat biasa-biasa saja bahkan cenderung tutup mata, toh mereka normal, toh mereka alami, toh laki-laki dengan perempuan, jadi pesta seks pun hal yang wajar, demikian yang masyarakat luas tanggapi.

Kembali pada pembahasan tentang sempitnya pola fikir masyarakat awam terhadap LGBT di bagian awal tulisan ini. Bagi saya terlepas dari tindakan pesta seks yang di lakukan kaum LGBT yang menurut saya memang salah namun kemudian sialnya di jadikan sajian utama santapan media massa, orang-orang seketika menjadi paling benar dengan menyerukan bahwa kaum LGBT adalah musuh kemanusiaan dan musuh semua umat beragama, perih menghujam perasaan humani saya.
Mereka tidak menyadari atau mungkin berpura-pura lupa bahwa:
– Isteri, adik, ibu, kekasih dan sahabat mereka mati-matian mempercantik diri, menyamarkan
kekurangan dan menambalnya dengan make up, style potongan rambut di salon dengan bantuan kaum
LGBT
– Mereka ke tempat perbelanjaan, dilayani dengan keramahan, juga dari kaum LGBT
– Perjalanan mereka dalam mempersempit jarak dan waktu entah itu untuk kepentingan bisnis,
liburan atau kunjungan keluarga di atas udara, dan selama rentang waktu di pesawat penerbangan,
nasib mereka bergantung pada kecakapan, keramahan serta ketulusan awak kabin pesawat yang juga
kaum LGBT
– Ketika mereka sakit, memasrahkan perawatan untuk kesembuhan mereka di tangan perawat dan dokter
yang juga kaum LGBT
– Di hampir kebanyakan kasir baik di Mall, di bioskop, di bank dan dimanapun, adalah kaum LGBT
– Bahkan ketika mereka jenuh dengan rutinitas seharian dan ingin dihibur, hampir di semua
stasiun televisi, kaum LGBT lah yang menghiburnya

Tentu saja tidak semua kaum LGBT tersebut dengan berani membuka diri terhadap pilihan seksualnya, tapi tidakkah terfikir bahwa sadar atau tidak sadar kaum LGBT yang sedemikian besar mereka benci justru adalah orang-orang yang memberi dampak baik langsung maupun tidak langsung kepada kehidupan mereka dan orang-orang yang mereka sayangi sehari-hari.

Yang harus juga di sadari, bahwa LGBT ini bukan semata-mata hal baru.
Bila kita mau jujur menilik pada sejarah dan budaya negeri ini.

Orang-orang Bugis dan Sulawesi selatan pada umumnya sejak dahulu hingga kini mengenal 5 gender; Laki-laki, Perempuan, Bissu, Calabai dan Calalai.

Di Jawa Timur, sejak ribuan tahun lalu mengenal Warok dan Gemblak, dimana Warok dikenal sebagai Pahlawan tradisional atau orang kuat terpandang yang secara budaya pantang untuk bersenggama dengan perempuan sebelum mencapai usia dewasa tertentu dan sebagai kompensasinya para Warok diperbolehkan melakukan persenggamaan dengan laki-laki usia muda antara 8-15 tahun yang disebut Gemblak. Bahkan hingga para Warok menikah dengan perempuan, mereka di ijinkan untuk tetap memiliki Gemblak dan masyarakat sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Di Papua, untuk mempersiapkan anak lelaki menjadi prajurit dewasa, mereka di pisahkan dari ibunya dan harus tinggal di sebuah rumah komunal (baca: rumah bujangan) bersama anak laki-laki lainnya, dan harus menyerap cairan hormon laki-laki muda yaitu semen (sperma) yang dianggap sebagai intisari kejantanan yang akan membentuk jiwa ksatria mereka, caranya bisa dengan menelan sperma melalui fellatio (oral seks) atau dengan dipenetrasi dalam hubungan seks anal.

Meski secara pribadi praktek budaya LGBT di Papua ini saya rasa perlu di cermati dengan seksama dari unsur kesehatan namun yang ingin saya garis bawahi adalah, budaya LGBT itu sendiri telah menjadi budaya yang ada dan hidup di Indonesia sejak ribuan tahun lalu.

Dan saya yakin banyak lagi budaya di seantero kawasan dalam rentang sabang hingga merauke yang dekat dan bahkan mengakui LGBT sedari ribuan tahun yang lalu bahkan jauh sebelum Indonesia ini berdiri. Bila Indonesia adalah dari Sabang sampau Merauke maka budaya yang telah ada ribuan tahun lalu dari Sabang sampau Merauke adalah Budaya Indonesia termasuk budaya mengenai LGBT.

Saya menyadari bahwa tidak 5, tidak 10 tidak juga belasan atau bahkan puluhan tahun lagi waktu yang cukup bagi masyarakat negeri ini untuk bisa menjadi layaknya masyarakat negeri tetangga seperti Thailand, Singapore atau Taiwan yang bisa menerima dengan kelapangan dada terhadap eksistensi kaum LGBT sebagai bagian dari lapisan masyarakat yang berhak hidup berdampingan secara harmonis.

Maka hingga kelak waktu tersebut tiba, saya hanya berharap kepada rekan-rekan LGBT, berperilaku lah yang wajar dan seyogyanya. Jangan mamancing di air yang sudah terlalu keruh. Justru menjernihlah pada kekeruhan itu, berbuat santunlah terhadap norma yang telah ada disekitar kita.

Dan untuk masyarakat umumnya yang membenci LGBT, sadarilah bisa jadi adikmu, kakakmu, anakmu, ayahmu, sahabatmu kekasihmu bahkan suamimu adalah kaum LGBT yang hingga saat ini tengah berjuang mengkebiri perasaannya sendiri sekuat tenaga untuk tetap menjadi bagian penting dari hidup anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s