Archive for the ‘Story Of Life’ Category

Sering dan bahkan terlalu sering saya mendapati rekan sejawat, teman sepergaulan, kolega kerja bahkan lini massa berkata “LGBT bukan budaya Indoneisa, LGBT adalah penyakit masyarakat Indonesia, mereka musuh kemanusiaan, musuh semua umat beragama…dst..dst..”

Saya awalnya mencoba tutup telinga dan tidak ambil perduli, tapi seiring maraknya peristiwa penggrebekan sarana dan atau aktifitas LBGT belakangan ini, penyerangan membabi buta terhadap kaum LGBT yang di generalisasi sedemikian rupa tersebut tak dipungkiri mengganggu saya.

Saya secara pribadi menyayangkan rekan-rekan sesama LGBT yang melampaui kebebasan yang pada ihwalnya memang sulit di dapatkan. Maksud saya, sudah lagi kita memang dibelenggu untuk menjadi diri kita sendiri di negeri ini, perilaku rekan-rekan sesama LGBT dalam berekspresi terlampau berani.

Mengadakan pesta seks menjadi pembenaran untuk menyalurkan nafsu birahi yang sejatinya memang hak azasi hanya saja di lakukan dengan mengorbankan norma-norma sosial yang sepatutnya di hargai.
Salah..? jelas menurut saya salah. Meski harus di akui, perihal pesta seks ini bukan hanya dilakukan oleh kaum LGBT. Kaum heteroseksual pun kerap melakukan pesta sejenis ini, hanya saja karena mereka di labeli “kaum normal” maka persepsi masyarakat biasa-biasa saja bahkan cenderung tutup mata, toh mereka normal, toh mereka alami, toh laki-laki dengan perempuan, jadi pesta seks pun hal yang wajar, demikian yang masyarakat luas tanggapi.

Kembali pada pembahasan tentang sempitnya pola fikir masyarakat awam terhadap LGBT di bagian awal tulisan ini. Bagi saya terlepas dari tindakan pesta seks yang di lakukan kaum LGBT yang menurut saya memang salah namun kemudian sialnya di jadikan sajian utama santapan media massa, orang-orang seketika menjadi paling benar dengan menyerukan bahwa kaum LGBT adalah musuh kemanusiaan dan musuh semua umat beragama, perih menghujam perasaan humani saya.
Mereka tidak menyadari atau mungkin berpura-pura lupa bahwa:
– Isteri, adik, ibu, kekasih dan sahabat mereka mati-matian mempercantik diri, menyamarkan
kekurangan dan menambalnya dengan make up, style potongan rambut di salon dengan bantuan kaum
LGBT
– Mereka ke tempat perbelanjaan, dilayani dengan keramahan, juga dari kaum LGBT
– Perjalanan mereka dalam mempersempit jarak dan waktu entah itu untuk kepentingan bisnis,
liburan atau kunjungan keluarga di atas udara, dan selama rentang waktu di pesawat penerbangan,
nasib mereka bergantung pada kecakapan, keramahan serta ketulusan awak kabin pesawat yang juga
kaum LGBT
– Ketika mereka sakit, memasrahkan perawatan untuk kesembuhan mereka di tangan perawat dan dokter
yang juga kaum LGBT
– Di hampir kebanyakan kasir baik di Mall, di bioskop, di bank dan dimanapun, adalah kaum LGBT
– Bahkan ketika mereka jenuh dengan rutinitas seharian dan ingin dihibur, hampir di semua
stasiun televisi, kaum LGBT lah yang menghiburnya

Tentu saja tidak semua kaum LGBT tersebut dengan berani membuka diri terhadap pilihan seksualnya, tapi tidakkah terfikir bahwa sadar atau tidak sadar kaum LGBT yang sedemikian besar mereka benci justru adalah orang-orang yang memberi dampak baik langsung maupun tidak langsung kepada kehidupan mereka dan orang-orang yang mereka sayangi sehari-hari.

Yang harus juga di sadari, bahwa LGBT ini bukan semata-mata hal baru.
Bila kita mau jujur menilik pada sejarah dan budaya negeri ini.

Orang-orang Bugis dan Sulawesi selatan pada umumnya sejak dahulu hingga kini mengenal 5 gender; Laki-laki, Perempuan, Bissu, Calabai dan Calalai.

Di Jawa Timur, sejak ribuan tahun lalu mengenal Warok dan Gemblak, dimana Warok dikenal sebagai Pahlawan tradisional atau orang kuat terpandang yang secara budaya pantang untuk bersenggama dengan perempuan sebelum mencapai usia dewasa tertentu dan sebagai kompensasinya para Warok diperbolehkan melakukan persenggamaan dengan laki-laki usia muda antara 8-15 tahun yang disebut Gemblak. Bahkan hingga para Warok menikah dengan perempuan, mereka di ijinkan untuk tetap memiliki Gemblak dan masyarakat sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Di Papua, untuk mempersiapkan anak lelaki menjadi prajurit dewasa, mereka di pisahkan dari ibunya dan harus tinggal di sebuah rumah komunal (baca: rumah bujangan) bersama anak laki-laki lainnya, dan harus menyerap cairan hormon laki-laki muda yaitu semen (sperma) yang dianggap sebagai intisari kejantanan yang akan membentuk jiwa ksatria mereka, caranya bisa dengan menelan sperma melalui fellatio (oral seks) atau dengan dipenetrasi dalam hubungan seks anal.

Meski secara pribadi praktek budaya LGBT di Papua ini saya rasa perlu di cermati dengan seksama dari unsur kesehatan namun yang ingin saya garis bawahi adalah, budaya LGBT itu sendiri telah menjadi budaya yang ada dan hidup di Indonesia sejak ribuan tahun lalu.

Dan saya yakin banyak lagi budaya di seantero kawasan dalam rentang sabang hingga merauke yang dekat dan bahkan mengakui LGBT sedari ribuan tahun yang lalu bahkan jauh sebelum Indonesia ini berdiri. Bila Indonesia adalah dari Sabang sampau Merauke maka budaya yang telah ada ribuan tahun lalu dari Sabang sampau Merauke adalah Budaya Indonesia termasuk budaya mengenai LGBT.

Saya menyadari bahwa tidak 5, tidak 10 tidak juga belasan atau bahkan puluhan tahun lagi waktu yang cukup bagi masyarakat negeri ini untuk bisa menjadi layaknya masyarakat negeri tetangga seperti Thailand, Singapore atau Taiwan yang bisa menerima dengan kelapangan dada terhadap eksistensi kaum LGBT sebagai bagian dari lapisan masyarakat yang berhak hidup berdampingan secara harmonis.

Maka hingga kelak waktu tersebut tiba, saya hanya berharap kepada rekan-rekan LGBT, berperilaku lah yang wajar dan seyogyanya. Jangan mamancing di air yang sudah terlalu keruh. Justru menjernihlah pada kekeruhan itu, berbuat santunlah terhadap norma yang telah ada disekitar kita.

Dan untuk masyarakat umumnya yang membenci LGBT, sadarilah bisa jadi adikmu, kakakmu, anakmu, ayahmu, sahabatmu kekasihmu bahkan suamimu adalah kaum LGBT yang hingga saat ini tengah berjuang mengkebiri perasaannya sendiri sekuat tenaga untuk tetap menjadi bagian penting dari hidup anda.

21 April 2016

Pernah luluh lantah langit tempat kita beratap
Pernah porak poranda bumi tempat kita berpijak
Sudah prahara terlewati berdua
Dalam pengembaraan kita, temukan arah
Hampir tergadai janji setia

Aku mencinta pada egomu,
Kau mendamba pada kerasku
Aku dan Kamu, mengego keras pada cinta

Kau keras, Aku tegas
Aku tak tahu malu, Kau kepala batu
Kau egois, Aku sinis
Kita tak serasi dalam banyak sisi
Kita jarang seirama dalam banyak nada
Kita sering tidak sepakat dalam banyak itikad

Aku,
Pernah parah terluka, terhujam perih merana
Masih Ku padamu mencinta
Kamu,
Pernah pedih, perih terkhianati
Tetap Kau padaku kembali

Tanpa pernah Ku Kau sakiti, tak mampu ku neracai setia
Tanpa pernah Kau Ku khianati, tak kau tahu mulia ikrar dan janji

Enam tahun sudah
Menyepakati bahagia dan airmata
Membiasakan satu dalam dua
Meng-Aku-kan kamu, meng-Kamu-kan Aku

Masih Aku untukmu dan selalu Kau untukku.

Gampangnya gini, tadi pagi ada cewe marah2 di jalan karena ngerasa di lecehin sama pengendara motor yg lewat dan nyiulin si cewe yg berpakaian legging ketat sampe ngebentuk body shape-nya, plus warnanya totol-totol macan kuning mentereng.

Eke seh ngelihatnya simple yah: lo dapat apa yang lo tawarkan!

Klo lo ga mau di siulin sama laki-laki yah jangan kasih alasan si lelaki tersebut buat nyiulin lo!
Setahu eke gak ada lelaki yang nyiulin cewe berpakaian sopan.

Hidup tuh harus sepenuhnya–begitu orang bijak pernah bilang– dan eke rasa sangat relevan.

Kita harus berani tegas memproyeksikan diri kita mau jadi apa.
Kaitannya sm peristiwa siul-menjerit ini adalah: kalau lo mau seksi,- yah seksi sekalian, klo perlu nge-porn, jangan nanggung!
Atau klo gak mau yah tutup rapih dg cara elegan, asset(baca: tubuh) lo dengan pantas dan santun.

Lah bayangin aja, wong itu tuh pagi hari, wayahnya orang berangkat kerja, langit lagi terang benderang, jalan rame sama orang lalu lalang, trus tuh cewe pake legging super ketat ampe belahan pantat cetar nampak, gw rasa siulan itu jd sangat wajar dan relevan terarah tepat pada sasaran!

Coba tengok artis-artis porno/bokep. Mereka bejat….? Ok bisa jadi– tapi setidaknya mereka tahu persis apa yg mereka mau…ngejual syahwat. Jujur dan apa-adanya!

Apa iya ada cowo siul-siul-in artis cewek bokep yang sedang mereka tonton? Gak kan- yg ada mereka senyap sunyi kalem tenang menikmati tontonan tersebut(meski ada bagian tubuh lelaki itu yang rame menggerinjang). Simple karena jelas porno yang mereka cari dan jelas porno pulalah yang mereka lihat,- gak nanggung dan gak bias.

Selayaknya main badminton( eke hrs pake analogi ini karena kebetulan eke emang badminton freaker!), ketika lo mau return(ngembaliin) bola lawan, pilihannya cuma dua: angkat dan buang tinggi- atau turunin rendah sejadi-jadinya.

Gak ada tuh lo returning shuttlecock dengan bola awkward( baca: tanggung- tinggi kurang, rendah gak) kalo iya, yang ada lo bakal di smash balik, tajam, tanpa ampun. Bhay. Point buat lawan!

Anekdot ini gak ada hubungannya dengan salah satu agama…, aurat lah, hijab/jilbab lah, gamis lah- sama sekali gak!

Ini simple berkaitan dengan gimana kita berani dan tegas memproyeksikan diri mau porno dan terima resiko brutal dari alam atau santun sekalian dengan rasa aman dan nyaman.

Dan kalau mau fair mengkorelasikan dengan pengalaman pribadi eke, yah gampangnya begini…
Ketika eke pakai celana skinny jeans ke kantor, di padu padankan dengan sepatu slip on warna biru yang di lengkapi dengan manik warna-warni di slip on eke tersebut, maka dengan sangat kewajaran atau bahasa papuanya ‘fully self aware’ eke dengan senang hati dan fine-fine aja ketika terdengar ada orang bergunjing dan bilang eke ‘bencyong’..really,- that’s don’t freaking me out much!
Meski sejujurnya butuh waktu 100 tahun lagi dan mungkin lebih, untuk mengedukasi orang kita tentang bedanya Gay, Queer dan Transgender (atau yang sering brutally mereka sebut dengan istilah bencyong). tapi yang jelas, eke senyum dan senang-senang aja kok, karena emang eke sadar memutuskan bergrooming seperti itu yah reaksi nya seperti itu.

Bokap gw pernah bilang(semoga dia tenang di sana): Nang, hidup itu harus patuh mewarna, mau jadi hitam atau putih,- jangan abu-abu dan jangan mengelabu.

Siap komandan! Ngerti sekarang:)

8 agustus 2014.
Di warteg, belakang kantor, sesudah makan siang, ditemenin rokok dan es teh manis.

Selatan Jakarta, Indonesia.

Jakarta is the best home for a show off rich people who have lacked of social cares! Yep, i am writing this now.

Let me give one small true fact. Ketika pertama kali mengunjungi Negeri Kangguru,bukanlah megah bangunan serta indah infrastruktur kota sana yang membuat saya ter-wow-kan. Karena bagi saya sudah menjadi pemandangan lumrah dan lazim untuk sebuah kota sekelas Melbourne dan Sydney yang menempati peringkat ke-3 dan ke-5 sebagai Kota dengan cost living termahal di dunia memiliki “make up” kota yang indah dan megah, adalah pemandangan di sepanjang jalan raya yang membuat saya tercengang. Di kota yang menjadi bagian dari kota ter-mahal di dunia tersebut, saya justru hampir tidak bisa mendapati adanya mobil mahal dengan brand terkenal di lengkapi desain mutakhir dan teknologi terdepan seperti yang biasa saya lihat sehari-hari di Jakarta, ibukota tercinta. Serius, ga habis pikir koq bisa yah Jakarta yang dikenal dunia sebagai bagian dari negara dengan predikat miskin di dunia justru padat penuh jalan raya nya dengan barisan mobil yang kebanyakan mencapai harga miliaran rupiah.

Di Melbourne dan Sydney, lebih dari 85% mobil yang di miliki warga nya hanya lah mobil sangat sederhana dengan budget rendah. Satu keluarga di sana rata-rata hanya memiliki satu mobil, meski saya yakin mereka mampu untuk membeli mobil mahal dengan teknologi ter-mutakhirkan seperti kebanyakan orang kaya di Jakarta. Tapi tidak bagi mereka di sana. Karena setelah berbincang-bincang dengan beberapa orang sana, mereka menganggap untuk apa menghabiskan uang ratusan juta hingga miliaran hanya untuk sebuah mobil yang hanya akan menambah macet jalanan dan pada akhirnya justru gak bisa maksimal kegunaannya di jalan.

Pemerintah Kota sana justru menerapkan kebijakan pajak yang sangat teramat mahal untuk mobil mewah dengan kepemilikan lebih dari satu unit. Gunanya adalah semata-mata agar orang-orang kaya disana jera dan berfikir ulang sebelum membeli mobil mewah tersebut. Selain pajak mahal, pemerintah juga menerapkan kebijakan menaikkan harga bensin untuk kendaraan mewah dan benar-benar konsisten menjalankan serta memonitor nya. jadi prinsip “Mobil mewah, biaya Mahal” benar-benar berjalan efektif. Hal ini lah yang membuat tingkat perbedaan dan jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin disana tidaklah begitu tinggi.

Bandingkan dengan Jakarta, Kota dengan populasi terpadat ke-4 di dunia (9.373.900 jiwa), perbedaan antara “si kaya” dan “si miskin” makin nyata setiap harinya. Yang kaya tambah mewah dan semakin sombong, yang miskin tambah sengsara dan semakin melarat.

Oh.., Jakarta..”Ibukota(orang kaya) Tercinta”.

DEMI!,

Posted: September 4, 2012 in puisiku, Story Of Life, Uncategorized
Tags: , , ,

Demi,

Aku benci, harus mengakui
Ku tepis lebih dari semua manis nikmat duniawi
Untuk setiap getir dan pahitmu.

Demi,

Aku mencintamu bukan karena akibat
Sebablah, yang membuat ku tulus padamu mengikat.

Demi,

Bahkan, lara mu menjadi mulia bagiku untuk menyeka
Bahkan, sedih mu menjadi ikhlas padaku untuk menderma
Bahkan, pada setiap tetes airmata mu, menjadi suci untukku memelukmu, menggadai senyumku.

Demi,

Bila mungkin Aku bukan terbaikmu,
Biarlah Kau sempurna menjadi Akhirku.

Demi!,

Pernah gak kalian melakukan aktivitas cuci piring? itu loh aktifitas membersihkan alat-alat masak dan makan minum yang kotor..ah meski mungkin aktifitas ini tidak melulu menjadi aktifitas rutin bagi sebagian orang namun sekali dalam hidupnya setiap kita pasti secara sengaja atau tidak sengaja terpaksa maupun tidak, pernah melakukannya.

Meski tergolong aktifitas ringan, namun kalian tahu gak bahwa mencuci piring juga tidak serta merta dapat kita katakan mudah dan bisa sekenanya,lho! Serius..,coba deh simak asal usul usil di bawah ini.

Siap kah..?

Siapkan!

Di mulai..

Mencuci piring dan alat-alat masak dan makan minum, ternyata membutuhkan tidak hanya kecekatan dan kecepatan tapi juga keteraturan dan kesabaran untuk mengikuti tahap-tahapnya.

Dulu waktu kecil, saya kerap disuruh Ibu untuk mencuci piring setiap kali selesai makan atau selesai memasak. Ibu, di setiap kesempatan itu pula berulang kali tanpa jera dan henti, mengingatkan untuk mencuci piring dengan hati, seni dan teliti. Sesering itu pula saya ngedumel dan menggerutu dalam hati..” apa seh Ibu ini, lah wong cuma cuci piring aja koq yah kayaknya seribet dan sengejeliwet rumus gravitasi!”.

Tapi bener rupanya ternyata memang tidak semudah dan sesimple isi otak kekanak-kanakan saya.

Dengan asal yang penting cepat selesai, saya mencuci piring seadanya, yang penting piring, sendok, gelas, dan alat-alat masak bebas dari kotoran yang menempel, itu yang ada dalam benak saya ketika itu. Maka mulai lah saya menyabuni seluruh piring gelas sendok beserta sekutu-sekutunya itu seperti panci, penggorengan, cobek, dll. Gak ada 5 menit semua selesai. Lalu aku pun melapor kepada Ibu, bahwa pekerjaan mencuci piring ku sudah selesai dengan harapan aku bisa langsung melanjutkan aktifitas yang paling aku gemari saat kecil..bermain!.

Tapi kemudian Ibu mengajak ku kembali ke dapur untuk memeriksa hasil pekerjaan mencuci piring ku tersebut. Ajaib, Ibu dengan sepersekian detik tanpa tedeng aling-aling tanpa kompromi tanpa surat somasi, langsung menyuruh aku mengulangi mencuci piring sedari awal karena menurut hasil pengamatan akademisnya(sedikit berlebihan seh) tugas mencuci piring ku sama sekali belum selesai. Aku terpaksa harus menunda kegiatan bermain ku karena urusan sepele sebiji upil  ini, huh..!

Sambil menggerutu aku pun memulai kembali memasukan tumpukan alat makan minum dan masak yang tadi sudah ku bersihkan kembali ke dalam bak dan menyiraminya dengan air, lalu ku sabuni sekenanya dan ku bilas seadanya. Fikir ku ketika itu, palingan juga setelah di sabuni dan di bilas kan yang penting kotoran sudah hilang kabur dari permukaan, selesai.

Kembali ku menghadap dan melapor ke Ibu, mendeklarasikan bahwa tugas ku mencuci piring kali ini benar-benar sudah selesai. Seperti persis laporan pertama, tak lama Ibu memeriksa tumpukan piring gelas dan alat masak yang sudah ku atur berletakan sangat rapih dan kering di rak piring. Tapi Ibu kembali menyatakan bahwa itu belum selesai..bahkan kali ini dia menambahkan bahwa itu jauh dari selesai.

Aku kesal sekaligus penasaran, apa dan dimana yang belum selesai, padahal aku yakin telah sungguh sungguh menyabuni dan membilas semua alat makan dan masak itu dan mengeringkannya dengan benar serta menempatkannya kembali ke posisi indah di rak sesuai porsinya, tapi masih saja Ibu bilang ini belum selesai! Bah, aku ga terima! Entah karena kesel hasil kerja ku tak mendapat appresiasi yang cukup dari Ibu atau karena aku resah gelisah karena teman-teman ku di luar sudah menunggu kehadiran ku untuk bermain bersama. Dengan hak angket bertanya yang memang sudah sedari kecil di erat lekatkan pada ku, aku pun bertanya, ” Ibu apa-apan seh, masa tanpa sama sekali menyentuh hasil pekerjaanku koq dengan mudahnya Ibu bilang hasil kerja ku belum selesai?!” dengan senyum yang tetap selembut dan sehangat pelangi Ibu berkata ” Ibu tahu kau sudah mencoba, tapi kau tidak mengindahkan  rumus mencuci piring yang Ibu ajarkan, yaitu mencuci dengan hati, seni dan teliti ” Aku kembali bertanya ” Lah kan yang penting semua kotoran yang melekat sudah hilang memang apa lgi yang kurang,Bu? ” Ibu menjawab ” Mari lihat yang Ibu lakukan dan setelah selesai kau bisa temukan jawaban yang kau tanyakan,Nak..

Kemudian Ibu menaruh seluruh peralatan makan dan memasak yang tadi sudah ku cuci ke dalam bak. Kemudian Ibu memenuhi isi bak tersebut dengan air dan membiarkan piring gelas dan alat masak tersebut terendam di dalamnya. ” Ah, so far itu seh aku tahu, kan emang tadi juga aku begitu koq! ” gumam ku dalam hati. Lalu Ibu mulai menyabuni gelas, sendok, piring dan secara berurutan pula mulai membilasnya persis sesuai urutan menyabuninya, yaitu membilas gelas terlebih dahulu, lalu sendok, kemudian piring dan mangkuk. Rasa penasaran ku menggelitik untuk bertanya, ” Ibu, apa bedanya seh, menyabuni dan membilas secara acak, ga harus sesuai urutan gelas dulu,baru sendok dan kemudian piring dan mangkuk? ” sambil tetap membilas ibu pun menjelaskan bahwa mencuci dan membilas Gelas di urutan pertama bermakna, bahwasannya alat minum yang satu ini ketika di pakai sangat sedikit terkotori, oleh sebab itu harus di cuci dan di bilas di urutan pertama agar menghindari tercampur dengan kotoran lain yang melekat di piring dan mangkuk dan atau alat masak lainnya. Juga karena gelas cenderung sangat peka terhadap bau dan nyengat rasa karena haikkat penggunaanya yang sangat dekat dengan hidung kita.

Segera setelah gelas tersebut bersih dan kering, Ibu melanjutkan mencuci dan membilas sendok, piring dan mangkuk dengan meninggalkan alat-alat masak seperti panci, penggorengan dan rekan-rekannya di urutan terakhir. Penjelasan ibu demikian, seperti halnya gelas, sendok, piring dan mangkuk memiliki kepekaan sendiri terhadap jenis kotoran. Bila mereka menyatu dan di sabuni serta di bilas bersamaan dengan alat-alat memasak maka besar kemungkinan piring dan mangkuk serta sendok tersebut akan terimbas dan terkena kotoran serta bau yang melekat di alat memasak, alhasil sendok, piring dan mangkuk tersebut akan menjadi sulit bersih dan susah wangi.

Dan terakhir, setelah sendok, piring dan mangkuk tersebut bersih dan kering maka mulai lah Ibu membersihkan alat memasak sebagai bagian terakhir dari proses mencuci piring. Segerat setelah seluruh proses mencuci itu selesai, Ibu menambahkan penjelasannya sekaligus menjadi closing statement yang hingga kini masih dengan jelas kuingat dan ku terapkan. Demikian Ibu berpesan, hanya dengan mencium bau yang melekat di gelas sudah cukup membuktikan apakah proses mencuci piring itu di lakukan dengan hati, seni dan teliti atau tidak.

Dalam proses mencuci piring yang kulakukan pertama dan kedua, ibu dengan mudah bisa memastikan bahwa proses yang kulakukan tidak dengan hati, seni dan teliti, karena aku serta merta mencampur dan membersihakn semua alat makan, minum dam memasak secara bersamaan.., tidak sesuai urutan, terbuktilah dengan indera penciuman Ibu yang maha tajam itu, gelas yang ku cuci ternyata meninggalkan bau makanan yang terlebih dahulu telah melekat di sendok, piring, mangkuk dan alat memasak. Ini terjadi karena aku melakukannya tidak dengan sepenuh hati, lalu mencampur baurkan urutan pencucian dan tidak mengindahkan seni dan tidak lagi kuperhatikan ketelitian yang mendasari hasil bersih dan wangi dari proses mencuci piring ini.

 

Ah, Ibu..kau memang manusia sederhana tapi super sempurna, bahkan melaui proses mencuci piring ini juga kau tanamkan 3 pelajaran penting yang kini ku sadari sangat berguna dalam keseharian ku di pekerjaan, atau apapun juga. Yah setiap pekerjaan yang menjadi tugas kita mestilah di lakukan dengan hati, hingga hasil yang kita dapat akan juah lebih bernilai seni dan dengan seni itulah secara sadar ataupun tidak menuntun kita untuk menjadi selalu teiliti.

Thanks Mom..You’re the best lah;-)

SURAT WASIAT

Posted: July 14, 2011 in puisiku, Story Of Life
Tags: , , , , ,

Untuk anak cucu ku, jika kelak kau berbapak dan berkakekkan ku. Wasiat ku, jadikan arah dalam langkah mu.

Ibuku adalah seorang Wanita dengan riwayat perjuangan hidup yang panjang, keras dan berat, yang Ia jalani dengan tabah hingga sekarang.

Ayah menikahi Ibuku sebagai Isteri ke dua dari tiga isteri yang Ayah nikahi secara resmi. Poligami.

Ketika Aku tanya mengapa Ibu mau menjadi Isteri ke dua dan bahkan mengijinkan Ayah menikah lagi dengan Isteri ketiga setelah Ibu, dengan tulus dan penuh kejujuran dia menjawab,…” Aku terlalu mencintai Ayahmu, hingga aku rela dan ikhlas menjadi isteri kedua, dan Aku begitu menghormati Ayahmu, hingga Aku ijinkan Ayahmu menikah lagi dengan Isteri ke tiga, karena Aku tak mau Ayah mu berjinah, dan Aku begitu menyayangi kalian, anak-anakku, hingga Aku tak sanggup membiarkan Kalian hidup tanpa Ayah..” begitu kata-katanya, terdengar begitu jujur apa adanya.

Yah. Ayahku, pria penganut poligami, memiliki 3 wanita sebagai isteri yang Ia nikahi secara resmi. Dari Isteri pertama Ayahku mendapat 2 orang putra dan 1 orang putri.

Dari Ibuku, Lahir 2 orang putra dan 2 orang putri.

Sementara dari Isteri ketiga, Ayah mendapat 1 putra dan 1 putri.

Poligami, meski kerap di ecap sebagai sebuah tindakan tak beradab, Aku dengan teriak menolak! Aku lahir dari kerahmatan berpoligami, tak pernah kusesali, tak sedikit ku syukuri. Meski Aku tak berharap banyak orang lain menyetujui pendapatku ini.

Mutlak Ibuku harus rela berbagi jatah kebutuhan belanja dan kebutuhan menghalalkan senggama bersama ke dua Isteri yang lain.Karena jatah yang sanggup di penuhi Ayah tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami berempat, maka Ibu memutuskan untuk bekerja, siang dan malam, membanting tulang dan memeras keringat, demi membantu suami mencukupi kelayakkan hidup kami, anak-anaknya.

Mulia sungguh Engkau..

Di setiap nama dan julukan mu

Di semua ucap dan laku perbuatan mu

Dan bahagia ku.., terlahir dalam kemuliaan mu

Ibu bekerja sebagai apapun yang sanggup dia lakukan.Mulai dari bekerja sebagai Pembantu rumah tangga, Penjaga dan Pengurus bayi, Buruh cuci baju, Tukang cuci piring di warung makan, Penjual nasi bungkus di pinggir rel kereta api, Penjual asongan rokok di terminal angkutan umum, menjadi kondektur bus angkutan umum, Tukang sapu bersih-bersih di toko, Buruh angkat barang di pelabuhan, hingga bekerja berebut peluang bersama buruh laki-laki demi mendapat giliran mengorek besi-besi tua dan menjualnya ke pedagang asongan.

Semua pekerjaan berat yang umumnya hanya pantas di lakukan oleh kaum bapak-bapak( lelaki), Ibu lakukan juga tanpa mengeluh. Ikhlas penuh. Seluruh. Utuh.

Untuk mu..

Tiada setara ku dapat memberi

Atas tetes keringat tiada henti.., hingga rambut mu memutih

Atas kasih tak harap balas.., hingga kerut wajah mu nampak jelas

Tak Jarang ibuku harus berdesak-desakan, beradu otot( meski umumnya wanita kebanyakan berfitrah tak berotot) dengan kaum pria demi mendapat peluang mendapat pekerjaan guna mencukupi kebutuhan hidup dan sekolah kami.

Hampir setiap malam kami tidur di rumah tanpa belai kasih sayang seorang Ibu, karena Ia harus bekerja siang dan malam, tak jarang Ibu tak pulang 3 hingga 5 hari bahkan 1 minggu lamanya.

Ibu hanya pulang untuk memberi uang belanja dan uang sekolah padaku, kemudian istirahat sebentar lalu kembali harus pergi untuk bekerja.

Sebuah gambaran perjuangan hebat di lakukan Seorang Ibu demi anaknya.

.. tentang mu..

Yang tak mampu tertidur pulas, sebelum cita dan asa ku

tergapai puas

Yang teteskan airmata teramat lirih, saat harapku

tak terbalas nyata

Yang tegar berdiri di barisan terdepan dalam membentuk

peradaban

Aku tulus mencintaimu.

Tak peduli hujan badai, petir menggelegar, panas terik menyengat, lelah menggelantungi badan begitu dahsyat, Ibuku tak gentar menghadapi semuanya, semua derita, kepedihan dan keletihan ia tanggung demi menafkahi kami anak-anaknya.

… pada mu…

Yang ikhlas pertaruhkan hidup, demi anak mu

Yang curahkan kasih dalam setiap alir darah ku

Yang menuntun ku dalam Doa, di setiap langkah hidup ku

Yang tetap mendekap ku hangat

Meski harus mengusung sengat Matahari di kepala

Dan berjalan letih tertatih di atas lautan bara

Aku ikhlas ‘kan berbakti

Meski Ia harus berpisah dan jarang menghabiskan waktu bersama anak-anak yang begitu sangat Ia cintai, Ibu ku tetap saja tak pernah berhenti berjuang dan selalu menampakkan senyum ketegaran di depan kami.

Ibu..,

Yang selalu ada menyelimuti ku

Kala malam, badai datang menggangu tidur ku

Yang tetap membuka lebar peluk mu

Saat seluruh dunia menutup pintu untuk ku

Yang tetap melukis senyum di wajah mu

Meski lara dan duka menghujam dalam hati mu ketika sibuk ku, harus tinggalkan mu sepi sendiri

Engkau sungguh karunia ku

Untuk mu, tentang mu, pada mu…, Ibu

Ku mohon kan pada Tuhan

Cintai, sayangi naungi Ibu ku dengan ridho-MU

Tempatkan dalam taman abadi syurga-MU

Bisikan tulus bait doa ku pada mu…

“ Aku dan seluruh diri ku akan selalu mencintai mu.., Ibu!”

Tahun 1995, Ayahku jatuh sakit akibat komplikasi penyakit Ginjal,Jantung, Kencing Manis, dan Asma ( penyakit ini di turunkan secara genetika kepadaku hingga sekarang). Kondisi ini menyebabkan Ibuku harus berjuang lebih keras lagi dengan memikul tanggung jawab harus menafkahi kami anak-anaknya sekaligus membantu biaya pengobatan penyakit Ayahku.

Keadaan Ayah yang jatuh sakit ini, ternyata tak sanggup di pikul oleh Isteri Ayah yang ke tiga, dia memutuskan bercerai dan meninggalkan Ayahku dalam keadaan sakit.

Tanggal 9 September 1999, Ayahku meninggal dunia, Lelaki dengan 3 Isteri dan 9 anak ini harus menutup mata selamanya kembali kepada Tuhan, dengan kepedihan dan isak tangis dari kami keluarga yang sangat menyayanginya.

“Kidung Sunyi Berbutir Bening” mengalun pilu.

Kenyataan pahit ini sangat menyedihkan, bagi kami, lebih-lebih bagi Ibuku, wanita yang begitu sangat mencintai dan menghormati Ayahku, hingga Ia Ikhlas dan rela membagi cinta dan kasih sayang dengan wanita lain, atas nama cinta tulus pada Ayahku.

Namun, kepedihan dan kesedihan itu tak menyurutkan semangat perjuangan hidup Ibuku.

Justru dengan meninggalnya Ayahku, membuat Ibu memompa semangat lebih besar lagi untuk berjuang demi kami anak-anaknya.

Kerap kali ku temukan Ibu mulai menunjukan tanda-tanda kelelahan yang sangat nampak, dengan seringnya Ia batuk, hingga ku dapati, sekali waktu Ia batuk mengeluarkan darah kental, yang ku yakini di sebabkan karena Ibuku harus bekerja di lokasi penuh debu dan kotoran serta polusi yang membahayakan pernapasannya, namun ketika ku coba untuk mengajaknya istirahat dan pergi berobat ke dokter, Ibu bersikeras mengatakan bahwa Ia baik-baik saja, bahwa ia tak perlu beristirahat apalagi berobat ke dokter, Ia menganggap berobat ke Dokter hanya menghabiskan uang saja. Ibuku…, kolot, pemberani.

Begitulah Ibuku, wanita keras kepala dengan pendirian kuat, meski ku tahu jauh di dalam tubuh ringkihnya kini, Ia merasakan kelelahan yang teramat sangat, namun Ia selalu menampakan kesan kuat dan tegar, agar kami juga bisa menjadi tegar menjalani hidup sebagai Yatim, tanpa Ayah. Berkasih sayang sebelah.

Tahun 2002, aku menyelesaikan sekolah menengah atas dengan baik.Aku lulus dengan predikat nilai memuaskan, sebuah pencapaian akademik yang Kakak lelaki ku tak mampu penuhi.

Yah, Kakak lelaki ku, anak tertua dari pernikahan mendiang Ayah dan Ibuku, cenderung nakal dan tidak cukup berhasil dengan pelajaran di sekolah. Kakakku terpaksa tidak meneruskan sekolah menengah pertamanya karena terlibat pergaulan nakal dengan teman-temannya.

Tepat 1 bulan sebelum ujian terakhir kelulusanku, Kakakku terlibat masalah dengan polisi, Kakakku di tahan di kantor polisi karena tertangkap basah mencoba mencuri rel besi bekas kerata api yang sudah hampir 10 tahun tidak lagi terpakai, lunglai terbengkalai.

Ketika Aku dan Ibuku menjenguk Kakakku di kantor polisi, dan menanyakan kenapa dia bisa berbuat hal memalukan dan bodoh itu, dengan jujur dan berlinang airmata, Kakakku menjelaskan, bahwa Ia terpaksa melakukan perbuatan mencuri itu, karena Ia ingin membantu membiayai uang syarat ujian terakhirku, agar aku bisa mengikuti uiian terakhir dengan tenang tanpa harus memikirkan biaya ujian. Kakakku beranggapan setidaknya Ia ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk ku, adiknya, karena jauh di dasar hatinya Ia sangat menyayangiku dan bangga akan kecerdasanku.

Sebuah pengakuan jujur, yang meski di lakukan dengan cara yang salah, namun niat itu begitu tulus, membuat ku tak sanggup menahan airmata tak terperihkan.

Bahwa demi kelulusanku, demi pendidikanku, ada Ibu dan Kakakku yang rela menempuh penderitaan dan kepedihan, demi rasa sayang dan harapan yang mereka letakkan di pundakku, bahwa kelak aku akan mampu memberi kebanggaan keluarga, bahwa kelak ketika aku lulus sekolah aku mampu merubah nasib keluarga ini, bahwa kelak aku mampu membiayai sekolah adik-adik ku hingga ke bangku kuliah,,,bahwa kelak setiap tetes keringat dan airmata yang pernah ada dari perjuangan Ayah, Kakak serta Ibuku tidak menjadi sia-sia.

Bahwa kelak, perjuangan dan pengorbanan tanpa henti yang pernah di lakukan oleh Ayah, kakakku, terlebih oleh Ibuku, akan mampu ku balas dengan baik.

Begitulah, setelah lulus sekolah dan mengantongi nilai akademis cukup baik, aku bertekad kuat untuk mendapat pekerjaan dan menggantikan tugas Ibu bekerja, hingga aku bisa membuat Ibuku beristirahat di rumah menikmati masa tuanya dengan baik. Alhamdulillah, Syukur Puji tak pernah bertepi kepada Tuhan, Sang Pengatur Segala Penderitaan dan Kebahagiaan, tak perlu lama menunggu, akhirnya aku mendapat pekerjaan cukup layak, baik dan pantas di sebuah pabrik perakitan motor terkenal di Indonesia.

Berpenghasilan 2 juta rupiah per bulan, sungguh sebuah pencapain luar biasa untukku, kala itu. Dengan berbekal pekerjaan dengan penghasilan baik itu, akhirnya ku berusaha meyakinkan Ibu untuk berhenti bekerja, membiarkan aku yang mengambil tanggung jawab tersebut, demi Ibu, Kakak, dan kedua adikku yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama itu.

Syukurlah, aku mampu meyakinkan Ibu untuk berhenti bekerja dan menghabiskan waktu tua nya dengan melakukan hal-hal yang selayaknya di lakukan oleh seorang Ibu sedari dulu, seperti membersihkan rumah, memasak makanan untuk anak-anaknya, mencuci baju, dan sebagainya. Hal-hal yang kodrati, tak mampu di lakukan Ibuku karena tuntutan bekerja menafkahi kami, anak-anaknya.

Tanggal 21 February, 2004, tragadi terjadi. Lagi. Kakak ku meninggal akibat kecelakaan sepeda motor di jalan. Mati mereggang nyawa di senja dini.

Hari itu kembali..,

Kidung sunyi berbutir bening, bersenandung lirih

“ Pesiar kini tanpa Nakhoda dan Sauh di Samudera “

Anak tertua dari pernikahan Ayah dan Ibuku ini, meninggal di Usia 27 tahun, meninggalkan luka dan kepedihan yang teramat sangat bagi kami adik-adiknya, terlebih bagi Ibuku. Kehilangan anak sulungnya benar-benar membuatnya terpukul. Meski perangai dan kelakuan anak pertamanya itu kerap kali mengembang kempiskan detak jantungnya, namun bagaimanapun, dia adalah anak lelaki pertama yang Ia lahirkan hasil buah kasih sayangnya bersama Ayahku.

Apapun keadaannya, anak pertama selalu mendapat tempat khusus di hati seorang Ibu. Hal inilah yang kufahami, yang menyebabkan kepedihan teramat dalam pada Ibuku.

Berbulan-bulan lamanya Ibuku murung dan sedih, nafsu makan hilang, semangat hidup berkurang, bahkan Ibuku tak lagi berkeinginan berkomunikasi dengan baik kepada kami. Hanya kepedihan, kesedihan dan luka yang tampak dari wajah ibuku. Keadaan ini membuat berat badannya menurun dengan drastis, sakit mulai menghampiri Ibuku perlahan-lahan.

Butuh waktu tidak sedikit untuk membuat Ibuku kembali normal, namun dengan kesabaran dan ketulusan, akhirnya aku dan kedua adik kecilku mampu perlahan-lahan mengembalikan semangat hidup Ibuku.

Ibuku berujar, sesungguhnya kehilangan suami karena kematian sudah cukup membuatnya seperti merasa setengah mati, hanya karena demi kami, anak-anaknya lah Ibuku bersemangat untuk tetap hidup, mendampingi kami memasuki kehidupan yang sebenarnya kelak saat kami dewasa. Namun kembali kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk kedua kali dalam hidupnya sungguh membuatnya ingin mengakhiri hidup seketika. Namun beliau tersadar bahwa Ia masih lagi memiliki kami, ke tiga anaknya yang masih tersisa, yang masih membutuhkan perhatian, nasehat, petuah dan kasih sayangnya untuk membekali kami dalam kehidupan ini. Dengan kesadaran itulah akhirnya Ibuku kembali bangkit dari kesedihan teramat dalamnya.

Hari demi hari berlalu semenjak peristiwa meninggalnya Kakakku tercinta. Kami terus berusaha menjalani hidup kami dengan tetap menyimpan semua kenangan indah kakakku selama masa hidupnya.

“ Pesiar tetap harus berlayar, walau hilang satu haluan

Kami harus tetap sampai di dermaga tujuan

Meski dayung harus di kayuh hanya dengan sebelah tangan”.

Hidup di Jakarta, ternyata benar-benar penuh godaan dan menjanjikan segala pesona kesenangan yang tidak mudah di tolak atau di hindari.

Hal ini tak ayal, berlaku juga pada ku.

Aku terjebak dan terpedaya akan kesenangan dan kenikmatan kota yang begitu menggoda. Perlahan namun pasti aku mulai menjauh dari keluarga, Ibu dan kedua adik-adik kecilku. Aku mulai sering keluar malam bahkan tidak pulang ke rumah, asik dengan kesenangan dunia malam yang memabukkanku dalam minuman keras, narkotika dan sex bebas.

Hancur lebur terkubur di lumpur!

Sesuatu yang memang belum pernah ku rasakan semenjak Ibu harus bekerja siang malam dan meninggalkan ku dalam tanggung jawab menjaga dan mendampingi kedua adik kecilku di rumah.

Memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, dan menjaga tidur mereka agar tetap lelap tanpa gangguan, adalah tanggung jawab yang harus ku pikul semenjak usia dini. Bahkan menjadi remaja yang penuh keceriaan, bercanda dan melakukan hal-hal ceroboh di masa remaja pun tak mampu aku rasakan, hampir seluruh waktu remaja ku habiskan dengan membaktikan diri pada adik-adik kecilku yang masih sangat mungil dan belia. Karena hal inilah, yang pada akhirnya membuat ku seolah terpana dan terpedaya untuk merasakan kesenangan dan kenikmatan yang seharusnya bisa kurasakan sewaktu ku remaja.

Aku mulai lepas kendali, berteman dengan dunia malam, dengan segenap hiruk pikuknya membuat aku melupakan keluargaku. Aku mulai tak lagi memperdulikan mereka, seluruh hasil penghasilanku bekerja ku habiskan begitu saja untuk bersenang-senang dengan narkotika, aku tak pernah lagi perduli akan Ibu dan kedua adikku yang masih sangat membutuhkan biaya sekolah. Sikap ku ini membuat Ibuku lagi-lagi terpukul dan mau tidak mau harus berbuat sesuatu demi adik-adikku yang masih sangat belia tersebut.

Kembali Ibuku memutuskan untuk bekerja dan mencari penghasilan untuk membiayai hidup dan sekolah adik-adikku.

Sementara aku tengah asik tergoda dalam kehidupan penuh dosa di Jakarta, Ibuku harus kembali bergelut dan bertarung dengan kejamnya hidup. Segala macam jenis pekerjaan lagi, kembali Ia lakukan demi mendapat uang, bahkan di usianya yang tak lagi muda dengan tubuh yang sudah ringkih, peyot, renta dan sakit-sakitan, Ibu tetap saja tak mau menyerah, Ia tetap berjuang.Dengan sekuat tenaga membagi waktu antara menunaikan tugas sebagai Ibu rumah tangga, memasak, mencuci, membersihkan rumah serta membesarkan kedua adikku di rumah, Ibuku juga harus tetap menyisihkan sisa-sisa kekuatannya untuk bekerja sebagai tukang cuci baju dari rumah ke rumah, penjaga bayi, dan pekerjaan lainnya. Ibu lakukan itu semua ketika kedua adikku sekolah, dan kembali kerumah saat mereka selesai sekolah.

Begitu setiap hari, tanpa henti, tanpa mengeluh, tanpa menggugat, tanpa pernah putus asa Ia lakukan demi kecintaan pada anak-anaknya.

Sesekali Ibu berusaha untruk menemuiku dan mencoba menasihatiku untuk pulang dan menghindari kehidupan yang salah itu, namun sesering itu pula aku membantah dan acuh pada nya. Tak jarang aku justru mengusir dan menyuruhnya menjauhi kehidupanku…..( sebuah sikap yang seumur hidupku akan selalu kusesali…).

Penolakan – penolakan kasar dan kata – kata tidak sopan sering sekali terucap dari mulutku, namun Ibuku tetap saja tak pernah merasa sakit hati atau marah, melaknat atau mengutukku sedikitpun.

Ibuku menganggap aku hanya lupa sesaat, Ia begitu sangat yakin suatu saat aku akan sadar dan kembali ke rumah untuk bersama-sama memperbaiki kehidupan kami sekeluarga.

Sungguh sebuah ketabahan dan kesabaran yang luar biasa tak terbantahkan.

Setiap saat setiap waktu setiap tarikan hembusan nafasnya, Ibuku tak pernah berhenti berdoa.

Di setiap sujud malamnya yang panjang, Ibuku selalu memanjatkan doa dan harapan memohon belas kasih Tuhan untuk memaafkan dan menyadarkan ku kembali ke jalan yang benar.

Terbukti, kesungguhan dan kasih sayangnya sanggup meluluhkan hati setiap malaikat di langit dan di Bumi. Dengan Kewelas asihan-Nya, Tuhan memberiku cobaan dan teguran yang sangat besar yang akhirnya mampu menyadarkan ku bahwa jalan yang ku tempuh adalah kesalahan.Mutlak!

Pemegang saham sukma

Terlalu banyak dusta

khianat

Hadirkan kekerdilan jiwa..

Masih pantaskah mensujudkan kepala

Aku terlilit hutang karena seluruh penghasilanku habis kugunakan untuk membeli narkotika. Aku di berhentikan dari pekerjaan karena produktifitasku bekerja turun drastis, sering kali aku tak masuk bekerja karena semalam suntuk bergumul dengan zat adiktif di Diskotik. Hutangku kian lama makin besar dan semuanya menagih untuk di lunasi, hingga puncaknya.., aku tertangkap dalam razia polisi untuk narkotika dan minuman keras.

Mereka menangkapku tertangkap tangan mengkonsumsi barang haram tersebut.

Mereka menahanku di penjara.

Senyum

Bahagiaku sesaat

Berganti,

Hujaman duka memeluk erat.

Sebuah kenyataan pahit yang harus di terima oleh Ibuku.

Kabar aku di tahan polisi dengan kasus memalukan membuatnya sangat terpukul. Selama ini Akulah yang di mata keluarga dan tetangga-tetangaku di anggap sebagai kebanggaan keluarga, namun kini justru membuat malu nama baik keluarga dengan tertangkap dan di tahan di sel karena kasus Narkoba.

Dengan perjuangan yang gigih dan menempuh segala cara akhirnya Ibuku mampu mengeluarkanku dengan jaminan di kantor polisi, sebuah usaha yang gigih dan tidak mudah, namun dahsyat dan mulianya kekuatan cinta Ibu tak mampu di batasi dengan kokohnya jeruji besi. Bahkan perkasanya tembok cina sekalipun, tak kan mampu mengahalanginya.

Semenjak peristiwa memalukan itu, aku kemudian bertekad dengan sungguh-sungguh untuk melakukan yang terbaik untuk keluarga ku yang ku cintai dan ku sayangi.

Pemilik aset Ruh…

Terlambat sadar akan salah

Dosa

Kian menghinakan diri…..

Hingga malu menengadahkan jemari

Meski tahu DIA satu…, sang empunya segala

Meski sadar DIA selalu.., memberi semua

Kalau masih bisa, ingin bersihkan noda

Bilapun masih mampu, ijinkan ku dharma hidupku

Tuk sekedar dapat di akui, aku masih hamba-MU

Aku memutuskan meninggalkan Jakarta dengan bekal restu dan ijin serta Doa tulus keluargaku, ku tinggalkan Jakarta demi mencari pekerjaan yang lebih baik dengan lingkungan yang lebih aman untukku, jauh dari suasana gegap gempitanya kota Jakarta. Aku pergi menemui rekan ku di Surabaya yang kemudian memberiku akses bantuan untuk bisa pergi ke Bali, dan berjuang mendapat pekerjaan di Bali.

Syukur kepada Tuhan, segala langkah yang ku tempuh guna bisa mendapat pekerjaan yang baik di Bali, di kabulkan oleh Tuhan. Aku mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan ku di Bali.

Bali memberi ku kesempatan untuk membuktikan kemampuan diri dan keterampilan yang ada padaku dengan maksimal. Mereka memberiku kesempatan untuk menunjukan bahwa aku mampu dan bisa bekerja dengan profesional dan bertanggung jawab.

Masa- masa produktif kulalui dengan baik di Bali. Aku kemudian mampu secara berkesinambungan menghidupi aku dan Keluarga ku di jakarta. Meski harus berpisah dengan jarak ribuan kilo meter dan menahan rasa rindu yang teramat sangat pada keluarga, namun aku harus menerima kenyataan ini, demi mereka yang kusayangi, agar mereke mendapat penghidupan yang layak dan baik. Aku hanya ingin memberi yang terbaik di sisa hidupku yang singkat ini, untuk keluarga yang sangat menyayangiku sepenuh hati mereka.

Aku rela membiarkan diriku hidup dengan serba keterbatasan disini asal mereka di sana bisa hidup dengan layak dan baik. Karena bagiku, merekalah satu-satunya alasan aku mampu bertahan hidup dengan segala kenyataan pahit yang ada .

Merekalah tujuan aku bertahan hidup.

Demi merekalah aku terlahirkan di dunia ini.

Mungkin bagi sebagian orang hal ini terlalu naif dan terlalu di dramatisir, tapi sungguh, aku hanya ingin mereka bahagia. Aku hanya ingin mereka mendapatkan kebahagiaan yang memang seharusnya mereka dapati dariku, anak lelaki tertua dan kakak satu-satunya bagi mereka.

Bila di suatu hari aku sudah tak ada lagi di dunia ini, ku harap tulisan ini mampu mewaikili perasaan ku, betapa aku mencintai dan menyayangi keluarga ku dengan segala baik dan buruknya aku.

Dan padamu, padanya, pada mereka

Ketika baris kata ini terbaca,

Sungguh ku ingin memberi indah di akhir cerita

Sungguh….

Mungkin tak banyak wasiat berbentuk barang berdefinisi harga yang mampu ku tinggalkan, segenap baris kata ini sanggup ku haturkan untuk mewakilinya.

Untuk anak cucu ku, jika kelak kau selesai membaca

Wasiat ku, jadikan arah dalam langkah mu

Tebar rata wasiat ku ini

Padanya, pada dia dan pada mereka semua

Agar kelak mereka tahu

Aku yang menulis ini.., dulu pernah ada.

Arie p’r/Tohir