Archive for the ‘Story Of Life’ Category

21 Aprilku

Posted: May 7, 2018 in puisiku, Story Of Life, Uncategorized
Tags:

Kau Pernah,
telah
dan akan selalu
menjadi 21 Aprilku.

Serapat angka 2 dengan 1,
sedekat itulah Aku dan Kamu
meski kini tak lagi bersatu.

Delapan tahun terlewati, hingga hari ini
tak pernah kusesali, hadirmu anugerahi hidupku
setiap gelak tawa hingga perih luka
setiap tetes tangis, hingga haru bahagia
menjadikan Aku yang sekarang dan Kamu yang terkini

Bahagialah Kau meski tak bersamaku lagi
Sehingga Aku bisa tenang menjalani sisa hari.

21 April 2010 – 21 April 2018

Advertisements

Sering dan bahkan terlalu sering saya mendapati rekan sejawat, teman sepergaulan, kolega kerja bahkan lini massa berkata “LGBT bukan budaya Indoneisa, LGBT adalah penyakit masyarakat Indonesia, mereka musuh kemanusiaan, musuh semua umat beragama…dst..dst..”

Saya awalnya mencoba tutup telinga dan tidak ambil perduli, tapi seiring maraknya peristiwa penggrebekan sarana dan atau aktifitas LBGT belakangan ini, penyerangan membabi buta terhadap kaum LGBT yang di generalisasi sedemikian rupa tersebut tak dipungkiri mengganggu saya.

Saya secara pribadi menyayangkan rekan-rekan sesama LGBT yang melampaui kebebasan yang pada ihwalnya memang sulit di dapatkan. Maksud saya, sudah lagi kita memang dibelenggu untuk menjadi diri kita sendiri di negeri ini, perilaku rekan-rekan sesama LGBT dalam berekspresi terlampau berani.

Mengadakan pesta seks menjadi pembenaran untuk menyalurkan nafsu birahi yang sejatinya memang hak azasi hanya saja di lakukan dengan mengorbankan norma-norma sosial yang sepatutnya di hargai.
Salah..? jelas menurut saya salah. Meski harus di akui, perihal pesta seks ini bukan hanya dilakukan oleh kaum LGBT. Kaum heteroseksual pun kerap melakukan pesta sejenis ini, hanya saja karena mereka di labeli “kaum normal” maka persepsi masyarakat biasa-biasa saja bahkan cenderung tutup mata, toh mereka normal, toh mereka alami, toh laki-laki dengan perempuan, jadi pesta seks pun hal yang wajar, demikian yang masyarakat luas tanggapi.

Kembali pada pembahasan tentang sempitnya pola fikir masyarakat awam terhadap LGBT di bagian awal tulisan ini. Bagi saya terlepas dari tindakan pesta seks yang di lakukan kaum LGBT yang menurut saya memang salah namun kemudian sialnya di jadikan sajian utama santapan media massa, orang-orang seketika menjadi paling benar dengan menyerukan bahwa kaum LGBT adalah musuh kemanusiaan dan musuh semua umat beragama, perih menghujam perasaan humani saya.
Mereka tidak menyadari atau mungkin berpura-pura lupa bahwa:
– Isteri, adik, ibu, kekasih dan sahabat mereka mati-matian mempercantik diri, menyamarkan
kekurangan dan menambalnya dengan make up, style potongan rambut di salon dengan bantuan kaum
LGBT
– Mereka ke tempat perbelanjaan, dilayani dengan keramahan, juga dari kaum LGBT
– Perjalanan mereka dalam mempersempit jarak dan waktu entah itu untuk kepentingan bisnis,
liburan atau kunjungan keluarga di atas udara, dan selama rentang waktu di pesawat penerbangan,
nasib mereka bergantung pada kecakapan, keramahan serta ketulusan awak kabin pesawat yang juga
kaum LGBT
– Ketika mereka sakit, memasrahkan perawatan untuk kesembuhan mereka di tangan perawat dan dokter
yang juga kaum LGBT
– Di hampir kebanyakan kasir baik di Mall, di bioskop, di bank dan dimanapun, adalah kaum LGBT
– Bahkan ketika mereka jenuh dengan rutinitas seharian dan ingin dihibur, hampir di semua
stasiun televisi, kaum LGBT lah yang menghiburnya

Tentu saja tidak semua kaum LGBT tersebut dengan berani membuka diri terhadap pilihan seksualnya, tapi tidakkah terfikir bahwa sadar atau tidak sadar kaum LGBT yang sedemikian besar mereka benci justru adalah orang-orang yang memberi dampak baik langsung maupun tidak langsung kepada kehidupan mereka dan orang-orang yang mereka sayangi sehari-hari.

Yang harus juga di sadari, bahwa LGBT ini bukan semata-mata hal baru.
Bila kita mau jujur menilik pada sejarah dan budaya negeri ini.

Orang-orang Bugis dan Sulawesi selatan pada umumnya sejak dahulu hingga kini mengenal 5 gender; Laki-laki, Perempuan, Bissu, Calabai dan Calalai.

Di Jawa Timur, sejak ribuan tahun lalu mengenal Warok dan Gemblak, dimana Warok dikenal sebagai Pahlawan tradisional atau orang kuat terpandang yang secara budaya pantang untuk bersenggama dengan perempuan sebelum mencapai usia dewasa tertentu dan sebagai kompensasinya para Warok diperbolehkan melakukan persenggamaan dengan laki-laki usia muda antara 8-15 tahun yang disebut Gemblak. Bahkan hingga para Warok menikah dengan perempuan, mereka di ijinkan untuk tetap memiliki Gemblak dan masyarakat sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Di Papua, untuk mempersiapkan anak lelaki menjadi prajurit dewasa, mereka di pisahkan dari ibunya dan harus tinggal di sebuah rumah komunal (baca: rumah bujangan) bersama anak laki-laki lainnya, dan harus menyerap cairan hormon laki-laki muda yaitu semen (sperma) yang dianggap sebagai intisari kejantanan yang akan membentuk jiwa ksatria mereka, caranya bisa dengan menelan sperma melalui fellatio (oral seks) atau dengan dipenetrasi dalam hubungan seks anal.

Meski secara pribadi praktek budaya LGBT di Papua ini saya rasa perlu di cermati dengan seksama dari unsur kesehatan namun yang ingin saya garis bawahi adalah, budaya LGBT itu sendiri telah menjadi budaya yang ada dan hidup di Indonesia sejak ribuan tahun lalu.

Dan saya yakin banyak lagi budaya di seantero kawasan dalam rentang sabang hingga merauke yang dekat dan bahkan mengakui LGBT sedari ribuan tahun yang lalu bahkan jauh sebelum Indonesia ini berdiri. Bila Indonesia adalah dari Sabang sampau Merauke maka budaya yang telah ada ribuan tahun lalu dari Sabang sampau Merauke adalah Budaya Indonesia termasuk budaya mengenai LGBT.

Saya menyadari bahwa tidak 5, tidak 10 tidak juga belasan atau bahkan puluhan tahun lagi waktu yang cukup bagi masyarakat negeri ini untuk bisa menjadi layaknya masyarakat negeri tetangga seperti Thailand, Singapore atau Taiwan yang bisa menerima dengan kelapangan dada terhadap eksistensi kaum LGBT sebagai bagian dari lapisan masyarakat yang berhak hidup berdampingan secara harmonis.

Maka hingga kelak waktu tersebut tiba, saya hanya berharap kepada rekan-rekan LGBT, berperilaku lah yang wajar dan seyogyanya. Jangan mamancing di air yang sudah terlalu keruh. Justru menjernihlah pada kekeruhan itu, berbuat santunlah terhadap norma yang telah ada disekitar kita.

Dan untuk masyarakat umumnya yang membenci LGBT, sadarilah bisa jadi adikmu, kakakmu, anakmu, ayahmu, sahabatmu kekasihmu bahkan suamimu adalah kaum LGBT yang hingga saat ini tengah berjuang mengkebiri perasaannya sendiri sekuat tenaga untuk tetap menjadi bagian penting dari hidup anda.

21 April 2016

Pernah luluh lantah langit tempat kita beratap
Pernah porak poranda bumi tempat kita berpijak
Sudah prahara terlewati berdua
Dalam pengembaraan kita, temukan arah
Hampir tergadai janji setia

Aku mencinta pada egomu,
Kau mendamba pada kerasku
Aku dan Kamu, mengego keras pada cinta

Kau keras, Aku tegas
Aku tak tahu malu, Kau kepala batu
Kau egois, Aku sinis
Kita tak serasi dalam banyak sisi
Kita jarang seirama dalam banyak nada
Kita sering tidak sepakat dalam banyak itikad

Aku,
Pernah parah terluka, terhujam perih merana
Masih Ku padamu mencinta
Kamu,
Pernah pedih, perih terkhianati
Tetap Kau padaku kembali

Tanpa pernah Ku Kau sakiti, tak mampu ku neracai setia
Tanpa pernah Kau Ku khianati, tak kau tahu mulia ikrar dan janji

Enam tahun sudah
Menyepakati bahagia dan airmata
Membiasakan satu dalam dua
Meng-Aku-kan kamu, meng-Kamu-kan Aku

Masih Aku untukmu dan selalu Kau untukku.

Gampangnya gini, tadi pagi ada cewe marah2 di jalan karena ngerasa di lecehin sama pengendara motor yg lewat dan nyiulin si cewe yg berpakaian legging ketat sampe ngebentuk body shape-nya, plus warnanya totol-totol macan kuning mentereng.

Eke seh ngelihatnya simple yah: lo dapat apa yang lo tawarkan!

Klo lo ga mau di siulin sama laki-laki yah jangan kasih alasan si lelaki tersebut buat nyiulin lo!
Setahu eke gak ada lelaki yang nyiulin cewe berpakaian sopan.

Hidup tuh harus sepenuhnya–begitu orang bijak pernah bilang– dan eke rasa sangat relevan.

Kita harus berani tegas memproyeksikan diri kita mau jadi apa.
Kaitannya sm peristiwa siul-menjerit ini adalah: kalau lo mau seksi,- yah seksi sekalian, klo perlu nge-porn, jangan nanggung!
Atau klo gak mau yah tutup rapih dg cara elegan, asset(baca: tubuh) lo dengan pantas dan santun.

Lah bayangin aja, wong itu tuh pagi hari, wayahnya orang berangkat kerja, langit lagi terang benderang, jalan rame sama orang lalu lalang, trus tuh cewe pake legging super ketat ampe belahan pantat cetar nampak, gw rasa siulan itu jd sangat wajar dan relevan terarah tepat pada sasaran!

Coba tengok artis-artis porno/bokep. Mereka bejat….? Ok bisa jadi– tapi setidaknya mereka tahu persis apa yg mereka mau…ngejual syahwat. Jujur dan apa-adanya!

Apa iya ada cowo siul-siul-in artis cewek bokep yang sedang mereka tonton? Gak kan- yg ada mereka senyap sunyi kalem tenang menikmati tontonan tersebut(meski ada bagian tubuh lelaki itu yang rame menggerinjang). Simple karena jelas porno yang mereka cari dan jelas porno pulalah yang mereka lihat,- gak nanggung dan gak bias.

Selayaknya main badminton( eke hrs pake analogi ini karena kebetulan eke emang badminton freaker!), ketika lo mau return(ngembaliin) bola lawan, pilihannya cuma dua: angkat dan buang tinggi- atau turunin rendah sejadi-jadinya.

Gak ada tuh lo returning shuttlecock dengan bola awkward( baca: tanggung- tinggi kurang, rendah gak) kalo iya, yang ada lo bakal di smash balik, tajam, tanpa ampun. Bhay. Point buat lawan!

Anekdot ini gak ada hubungannya dengan salah satu agama…, aurat lah, hijab/jilbab lah, gamis lah- sama sekali gak!

Ini simple berkaitan dengan gimana kita berani dan tegas memproyeksikan diri mau porno dan terima resiko brutal dari alam atau santun sekalian dengan rasa aman dan nyaman.

Dan kalau mau fair mengkorelasikan dengan pengalaman pribadi eke, yah gampangnya begini…
Ketika eke pakai celana skinny jeans ke kantor, di padu padankan dengan sepatu slip on warna biru yang di lengkapi dengan manik warna-warni di slip on eke tersebut, maka dengan sangat kewajaran atau bahasa papuanya ‘fully self aware’ eke dengan senang hati dan fine-fine aja ketika terdengar ada orang bergunjing dan bilang eke ‘bencyong’..really,- that’s don’t freaking me out much!
Meski sejujurnya butuh waktu 100 tahun lagi dan mungkin lebih, untuk mengedukasi orang kita tentang bedanya Gay, Queer dan Transgender (atau yang sering brutally mereka sebut dengan istilah bencyong). tapi yang jelas, eke senyum dan senang-senang aja kok, karena emang eke sadar memutuskan bergrooming seperti itu yah reaksi nya seperti itu.

Bokap gw pernah bilang(semoga dia tenang di sana): Nang, hidup itu harus patuh mewarna, mau jadi hitam atau putih,- jangan abu-abu dan jangan mengelabu.

Siap komandan! Ngerti sekarang:)

8 agustus 2014.
Di warteg, belakang kantor, sesudah makan siang, ditemenin rokok dan es teh manis.

Selatan Jakarta, Indonesia.

Jakarta is the best home for a show off rich people who have lacked of social cares! Yep, i am writing this now.

Let me give one small true fact. Ketika pertama kali mengunjungi Negeri Kangguru,bukanlah megah bangunan serta indah infrastruktur kota sana yang membuat saya ter-wow-kan. Karena bagi saya sudah menjadi pemandangan lumrah dan lazim untuk sebuah kota sekelas Melbourne dan Sydney yang menempati peringkat ke-3 dan ke-5 sebagai Kota dengan cost living termahal di dunia memiliki “make up” kota yang indah dan megah, adalah pemandangan di sepanjang jalan raya yang membuat saya tercengang. Di kota yang menjadi bagian dari kota ter-mahal di dunia tersebut, saya justru hampir tidak bisa mendapati adanya mobil mahal dengan brand terkenal di lengkapi desain mutakhir dan teknologi terdepan seperti yang biasa saya lihat sehari-hari di Jakarta, ibukota tercinta. Serius, ga habis pikir koq bisa yah Jakarta yang dikenal dunia sebagai bagian dari negara dengan predikat miskin di dunia justru padat penuh jalan raya nya dengan barisan mobil yang kebanyakan mencapai harga miliaran rupiah.

Di Melbourne dan Sydney, lebih dari 85% mobil yang di miliki warga nya hanya lah mobil sangat sederhana dengan budget rendah. Satu keluarga di sana rata-rata hanya memiliki satu mobil, meski saya yakin mereka mampu untuk membeli mobil mahal dengan teknologi ter-mutakhirkan seperti kebanyakan orang kaya di Jakarta. Tapi tidak bagi mereka di sana. Karena setelah berbincang-bincang dengan beberapa orang sana, mereka menganggap untuk apa menghabiskan uang ratusan juta hingga miliaran hanya untuk sebuah mobil yang hanya akan menambah macet jalanan dan pada akhirnya justru gak bisa maksimal kegunaannya di jalan.

Pemerintah Kota sana justru menerapkan kebijakan pajak yang sangat teramat mahal untuk mobil mewah dengan kepemilikan lebih dari satu unit. Gunanya adalah semata-mata agar orang-orang kaya disana jera dan berfikir ulang sebelum membeli mobil mewah tersebut. Selain pajak mahal, pemerintah juga menerapkan kebijakan menaikkan harga bensin untuk kendaraan mewah dan benar-benar konsisten menjalankan serta memonitor nya. jadi prinsip “Mobil mewah, biaya Mahal” benar-benar berjalan efektif. Hal ini lah yang membuat tingkat perbedaan dan jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin disana tidaklah begitu tinggi.

Bandingkan dengan Jakarta, Kota dengan populasi terpadat ke-4 di dunia (9.373.900 jiwa), perbedaan antara “si kaya” dan “si miskin” makin nyata setiap harinya. Yang kaya tambah mewah dan semakin sombong, yang miskin tambah sengsara dan semakin melarat.

Oh.., Jakarta..”Ibukota(orang kaya) Tercinta”.

DEMI!,

Posted: September 4, 2012 in puisiku, Story Of Life, Uncategorized
Tags: , , ,

Demi,

Aku benci, harus mengakui
Ku tepis lebih dari semua manis nikmat duniawi
Untuk setiap getir dan pahitmu.

Demi,

Aku mencintamu bukan karena akibat
Sebablah, yang membuat ku tulus padamu mengikat.

Demi,

Bahkan, lara mu menjadi mulia bagiku untuk menyeka
Bahkan, sedih mu menjadi ikhlas padaku untuk menderma
Bahkan, pada setiap tetes airmata mu, menjadi suci untukku memelukmu, menggadai senyumku.

Demi,

Bila mungkin Aku bukan terbaikmu,
Biarlah Kau sempurna menjadi Akhirku.

Demi!,

Pernah gak kalian melakukan aktivitas cuci piring? itu loh aktifitas membersihkan alat-alat masak dan makan minum yang kotor..ah meski mungkin aktifitas ini tidak melulu menjadi aktifitas rutin bagi sebagian orang namun sekali dalam hidupnya setiap kita pasti secara sengaja atau tidak sengaja terpaksa maupun tidak, pernah melakukannya.

Meski tergolong aktifitas ringan, namun kalian tahu gak bahwa mencuci piring juga tidak serta merta dapat kita katakan mudah dan bisa sekenanya,lho! Serius..,coba deh simak asal usul usil di bawah ini.

Siap kah..?

Siapkan!

Di mulai..

Mencuci piring dan alat-alat masak dan makan minum, ternyata membutuhkan tidak hanya kecekatan dan kecepatan tapi juga keteraturan dan kesabaran untuk mengikuti tahap-tahapnya.

Dulu waktu kecil, saya kerap disuruh Ibu untuk mencuci piring setiap kali selesai makan atau selesai memasak. Ibu, di setiap kesempatan itu pula berulang kali tanpa jera dan henti, mengingatkan untuk mencuci piring dengan hati, seni dan teliti. Sesering itu pula saya ngedumel dan menggerutu dalam hati..” apa seh Ibu ini, lah wong cuma cuci piring aja koq yah kayaknya seribet dan sengejeliwet rumus gravitasi!”.

Tapi bener rupanya ternyata memang tidak semudah dan sesimple isi otak kekanak-kanakan saya.

Dengan asal yang penting cepat selesai, saya mencuci piring seadanya, yang penting piring, sendok, gelas, dan alat-alat masak bebas dari kotoran yang menempel, itu yang ada dalam benak saya ketika itu. Maka mulai lah saya menyabuni seluruh piring gelas sendok beserta sekutu-sekutunya itu seperti panci, penggorengan, cobek, dll. Gak ada 5 menit semua selesai. Lalu aku pun melapor kepada Ibu, bahwa pekerjaan mencuci piring ku sudah selesai dengan harapan aku bisa langsung melanjutkan aktifitas yang paling aku gemari saat kecil..bermain!.

Tapi kemudian Ibu mengajak ku kembali ke dapur untuk memeriksa hasil pekerjaan mencuci piring ku tersebut. Ajaib, Ibu dengan sepersekian detik tanpa tedeng aling-aling tanpa kompromi tanpa surat somasi, langsung menyuruh aku mengulangi mencuci piring sedari awal karena menurut hasil pengamatan akademisnya(sedikit berlebihan seh) tugas mencuci piring ku sama sekali belum selesai. Aku terpaksa harus menunda kegiatan bermain ku karena urusan sepele sebiji upil  ini, huh..!

Sambil menggerutu aku pun memulai kembali memasukan tumpukan alat makan minum dan masak yang tadi sudah ku bersihkan kembali ke dalam bak dan menyiraminya dengan air, lalu ku sabuni sekenanya dan ku bilas seadanya. Fikir ku ketika itu, palingan juga setelah di sabuni dan di bilas kan yang penting kotoran sudah hilang kabur dari permukaan, selesai.

Kembali ku menghadap dan melapor ke Ibu, mendeklarasikan bahwa tugas ku mencuci piring kali ini benar-benar sudah selesai. Seperti persis laporan pertama, tak lama Ibu memeriksa tumpukan piring gelas dan alat masak yang sudah ku atur berletakan sangat rapih dan kering di rak piring. Tapi Ibu kembali menyatakan bahwa itu belum selesai..bahkan kali ini dia menambahkan bahwa itu jauh dari selesai.

Aku kesal sekaligus penasaran, apa dan dimana yang belum selesai, padahal aku yakin telah sungguh sungguh menyabuni dan membilas semua alat makan dan masak itu dan mengeringkannya dengan benar serta menempatkannya kembali ke posisi indah di rak sesuai porsinya, tapi masih saja Ibu bilang ini belum selesai! Bah, aku ga terima! Entah karena kesel hasil kerja ku tak mendapat appresiasi yang cukup dari Ibu atau karena aku resah gelisah karena teman-teman ku di luar sudah menunggu kehadiran ku untuk bermain bersama. Dengan hak angket bertanya yang memang sudah sedari kecil di erat lekatkan pada ku, aku pun bertanya, ” Ibu apa-apan seh, masa tanpa sama sekali menyentuh hasil pekerjaanku koq dengan mudahnya Ibu bilang hasil kerja ku belum selesai?!” dengan senyum yang tetap selembut dan sehangat pelangi Ibu berkata ” Ibu tahu kau sudah mencoba, tapi kau tidak mengindahkan  rumus mencuci piring yang Ibu ajarkan, yaitu mencuci dengan hati, seni dan teliti ” Aku kembali bertanya ” Lah kan yang penting semua kotoran yang melekat sudah hilang memang apa lgi yang kurang,Bu? ” Ibu menjawab ” Mari lihat yang Ibu lakukan dan setelah selesai kau bisa temukan jawaban yang kau tanyakan,Nak..

Kemudian Ibu menaruh seluruh peralatan makan dan memasak yang tadi sudah ku cuci ke dalam bak. Kemudian Ibu memenuhi isi bak tersebut dengan air dan membiarkan piring gelas dan alat masak tersebut terendam di dalamnya. ” Ah, so far itu seh aku tahu, kan emang tadi juga aku begitu koq! ” gumam ku dalam hati. Lalu Ibu mulai menyabuni gelas, sendok, piring dan secara berurutan pula mulai membilasnya persis sesuai urutan menyabuninya, yaitu membilas gelas terlebih dahulu, lalu sendok, kemudian piring dan mangkuk. Rasa penasaran ku menggelitik untuk bertanya, ” Ibu, apa bedanya seh, menyabuni dan membilas secara acak, ga harus sesuai urutan gelas dulu,baru sendok dan kemudian piring dan mangkuk? ” sambil tetap membilas ibu pun menjelaskan bahwa mencuci dan membilas Gelas di urutan pertama bermakna, bahwasannya alat minum yang satu ini ketika di pakai sangat sedikit terkotori, oleh sebab itu harus di cuci dan di bilas di urutan pertama agar menghindari tercampur dengan kotoran lain yang melekat di piring dan mangkuk dan atau alat masak lainnya. Juga karena gelas cenderung sangat peka terhadap bau dan nyengat rasa karena haikkat penggunaanya yang sangat dekat dengan hidung kita.

Segera setelah gelas tersebut bersih dan kering, Ibu melanjutkan mencuci dan membilas sendok, piring dan mangkuk dengan meninggalkan alat-alat masak seperti panci, penggorengan dan rekan-rekannya di urutan terakhir. Penjelasan ibu demikian, seperti halnya gelas, sendok, piring dan mangkuk memiliki kepekaan sendiri terhadap jenis kotoran. Bila mereka menyatu dan di sabuni serta di bilas bersamaan dengan alat-alat memasak maka besar kemungkinan piring dan mangkuk serta sendok tersebut akan terimbas dan terkena kotoran serta bau yang melekat di alat memasak, alhasil sendok, piring dan mangkuk tersebut akan menjadi sulit bersih dan susah wangi.

Dan terakhir, setelah sendok, piring dan mangkuk tersebut bersih dan kering maka mulai lah Ibu membersihkan alat memasak sebagai bagian terakhir dari proses mencuci piring. Segerat setelah seluruh proses mencuci itu selesai, Ibu menambahkan penjelasannya sekaligus menjadi closing statement yang hingga kini masih dengan jelas kuingat dan ku terapkan. Demikian Ibu berpesan, hanya dengan mencium bau yang melekat di gelas sudah cukup membuktikan apakah proses mencuci piring itu di lakukan dengan hati, seni dan teliti atau tidak.

Dalam proses mencuci piring yang kulakukan pertama dan kedua, ibu dengan mudah bisa memastikan bahwa proses yang kulakukan tidak dengan hati, seni dan teliti, karena aku serta merta mencampur dan membersihakn semua alat makan, minum dam memasak secara bersamaan.., tidak sesuai urutan, terbuktilah dengan indera penciuman Ibu yang maha tajam itu, gelas yang ku cuci ternyata meninggalkan bau makanan yang terlebih dahulu telah melekat di sendok, piring, mangkuk dan alat memasak. Ini terjadi karena aku melakukannya tidak dengan sepenuh hati, lalu mencampur baurkan urutan pencucian dan tidak mengindahkan seni dan tidak lagi kuperhatikan ketelitian yang mendasari hasil bersih dan wangi dari proses mencuci piring ini.

 

Ah, Ibu..kau memang manusia sederhana tapi super sempurna, bahkan melaui proses mencuci piring ini juga kau tanamkan 3 pelajaran penting yang kini ku sadari sangat berguna dalam keseharian ku di pekerjaan, atau apapun juga. Yah setiap pekerjaan yang menjadi tugas kita mestilah di lakukan dengan hati, hingga hasil yang kita dapat akan juah lebih bernilai seni dan dengan seni itulah secara sadar ataupun tidak menuntun kita untuk menjadi selalu teiliti.

Thanks Mom..You’re the best lah;-)