Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Sering dan bahkan terlalu sering saya mendapati rekan sejawat, teman sepergaulan, kolega kerja bahkan lini massa berkata “LGBT bukan budaya Indoneisa, LGBT adalah penyakit masyarakat Indonesia, mereka musuh kemanusiaan, musuh semua umat beragama…dst..dst..”

Saya awalnya mencoba tutup telinga dan tidak ambil perduli, tapi seiring maraknya peristiwa penggrebekan sarana dan atau aktifitas LBGT belakangan ini, penyerangan membabi buta terhadap kaum LGBT yang di generalisasi sedemikian rupa tersebut tak dipungkiri mengganggu saya.

Saya secara pribadi menyayangkan rekan-rekan sesama LGBT yang melampaui kebebasan yang pada ihwalnya memang sulit di dapatkan. Maksud saya, sudah lagi kita memang dibelenggu untuk menjadi diri kita sendiri di negeri ini, perilaku rekan-rekan sesama LGBT dalam berekspresi terlampau berani.

Mengadakan pesta seks menjadi pembenaran untuk menyalurkan nafsu birahi yang sejatinya memang hak azasi hanya saja di lakukan dengan mengorbankan norma-norma sosial yang sepatutnya di hargai.
Salah..? jelas menurut saya salah. Meski harus di akui, perihal pesta seks ini bukan hanya dilakukan oleh kaum LGBT. Kaum heteroseksual pun kerap melakukan pesta sejenis ini, hanya saja karena mereka di labeli “kaum normal” maka persepsi masyarakat biasa-biasa saja bahkan cenderung tutup mata, toh mereka normal, toh mereka alami, toh laki-laki dengan perempuan, jadi pesta seks pun hal yang wajar, demikian yang masyarakat luas tanggapi.

Kembali pada pembahasan tentang sempitnya pola fikir masyarakat awam terhadap LGBT di bagian awal tulisan ini. Bagi saya terlepas dari tindakan pesta seks yang di lakukan kaum LGBT yang menurut saya memang salah namun kemudian sialnya di jadikan sajian utama santapan media massa, orang-orang seketika menjadi paling benar dengan menyerukan bahwa kaum LGBT adalah musuh kemanusiaan dan musuh semua umat beragama, perih menghujam perasaan humani saya.
Mereka tidak menyadari atau mungkin berpura-pura lupa bahwa:
– Isteri, adik, ibu, kekasih dan sahabat mereka mati-matian mempercantik diri, menyamarkan
kekurangan dan menambalnya dengan make up, style potongan rambut di salon dengan bantuan kaum
LGBT
– Mereka ke tempat perbelanjaan, dilayani dengan keramahan, juga dari kaum LGBT
– Perjalanan mereka dalam mempersempit jarak dan waktu entah itu untuk kepentingan bisnis,
liburan atau kunjungan keluarga di atas udara, dan selama rentang waktu di pesawat penerbangan,
nasib mereka bergantung pada kecakapan, keramahan serta ketulusan awak kabin pesawat yang juga
kaum LGBT
– Ketika mereka sakit, memasrahkan perawatan untuk kesembuhan mereka di tangan perawat dan dokter
yang juga kaum LGBT
– Di hampir kebanyakan kasir baik di Mall, di bioskop, di bank dan dimanapun, adalah kaum LGBT
– Bahkan ketika mereka jenuh dengan rutinitas seharian dan ingin dihibur, hampir di semua
stasiun televisi, kaum LGBT lah yang menghiburnya

Tentu saja tidak semua kaum LGBT tersebut dengan berani membuka diri terhadap pilihan seksualnya, tapi tidakkah terfikir bahwa sadar atau tidak sadar kaum LGBT yang sedemikian besar mereka benci justru adalah orang-orang yang memberi dampak baik langsung maupun tidak langsung kepada kehidupan mereka dan orang-orang yang mereka sayangi sehari-hari.

Yang harus juga di sadari, bahwa LGBT ini bukan semata-mata hal baru.
Bila kita mau jujur menilik pada sejarah dan budaya negeri ini.

Orang-orang Bugis dan Sulawesi selatan pada umumnya sejak dahulu hingga kini mengenal 5 gender; Laki-laki, Perempuan, Bissu, Calabai dan Calalai.

Di Jawa Timur, sejak ribuan tahun lalu mengenal Warok dan Gemblak, dimana Warok dikenal sebagai Pahlawan tradisional atau orang kuat terpandang yang secara budaya pantang untuk bersenggama dengan perempuan sebelum mencapai usia dewasa tertentu dan sebagai kompensasinya para Warok diperbolehkan melakukan persenggamaan dengan laki-laki usia muda antara 8-15 tahun yang disebut Gemblak. Bahkan hingga para Warok menikah dengan perempuan, mereka di ijinkan untuk tetap memiliki Gemblak dan masyarakat sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Di Papua, untuk mempersiapkan anak lelaki menjadi prajurit dewasa, mereka di pisahkan dari ibunya dan harus tinggal di sebuah rumah komunal (baca: rumah bujangan) bersama anak laki-laki lainnya, dan harus menyerap cairan hormon laki-laki muda yaitu semen (sperma) yang dianggap sebagai intisari kejantanan yang akan membentuk jiwa ksatria mereka, caranya bisa dengan menelan sperma melalui fellatio (oral seks) atau dengan dipenetrasi dalam hubungan seks anal.

Meski secara pribadi praktek budaya LGBT di Papua ini saya rasa perlu di cermati dengan seksama dari unsur kesehatan namun yang ingin saya garis bawahi adalah, budaya LGBT itu sendiri telah menjadi budaya yang ada dan hidup di Indonesia sejak ribuan tahun lalu.

Dan saya yakin banyak lagi budaya di seantero kawasan dalam rentang sabang hingga merauke yang dekat dan bahkan mengakui LGBT sedari ribuan tahun yang lalu bahkan jauh sebelum Indonesia ini berdiri. Bila Indonesia adalah dari Sabang sampau Merauke maka budaya yang telah ada ribuan tahun lalu dari Sabang sampau Merauke adalah Budaya Indonesia termasuk budaya mengenai LGBT.

Saya menyadari bahwa tidak 5, tidak 10 tidak juga belasan atau bahkan puluhan tahun lagi waktu yang cukup bagi masyarakat negeri ini untuk bisa menjadi layaknya masyarakat negeri tetangga seperti Thailand, Singapore atau Taiwan yang bisa menerima dengan kelapangan dada terhadap eksistensi kaum LGBT sebagai bagian dari lapisan masyarakat yang berhak hidup berdampingan secara harmonis.

Maka hingga kelak waktu tersebut tiba, saya hanya berharap kepada rekan-rekan LGBT, berperilaku lah yang wajar dan seyogyanya. Jangan mamancing di air yang sudah terlalu keruh. Justru menjernihlah pada kekeruhan itu, berbuat santunlah terhadap norma yang telah ada disekitar kita.

Dan untuk masyarakat umumnya yang membenci LGBT, sadarilah bisa jadi adikmu, kakakmu, anakmu, ayahmu, sahabatmu kekasihmu bahkan suamimu adalah kaum LGBT yang hingga saat ini tengah berjuang mengkebiri perasaannya sendiri sekuat tenaga untuk tetap menjadi bagian penting dari hidup anda.

Dulu, Sekarang

Posted: October 14, 2016 in Uncategorized

Dulu,
Rupawan parasmu taklukan tingginya egoku, 

Luluh ku ingin memilikimu.

Dulu,

Rekah lebar senyummu mendebar-debarkan jantungku,

Pasrah ku pada kuasa pesonamu.
Kini,

Aku milikmu, Kau memilihku

Setiap hari, setiap waktu

Berbagi ini dan itu

Berbagi janji untuk menggenapkan mimpi

Berbagi airmata untuk memaknai duka

Dan berbagi tawa untuk mencukupkan bahagia
Hingga nanti,

Saat kerutan menggilas rupa mu

Saat timbangan badan melipatgandakan angka berat tubuhmu

Saat usia menggerus ragamu

Saat ringkih dan pikun menguasaiku

Saat muda merambat menjauhiku

Saat bau tanah menjadi bau tubuhku
Aku akan tua bersamamu.
By: P.R

14 Oktober 2016

21 April 2016

Pernah luluh lantah langit tempat kita beratap
Pernah porak poranda bumi tempat kita berpijak
Sudah prahara terlewati berdua
Dalam pengembaraan kita, temukan arah
Hampir tergadai janji setia

Aku mencinta pada egomu,
Kau mendamba pada kerasku
Aku dan Kamu, mengego keras pada cinta

Kau keras, Aku tegas
Aku tak tahu malu, Kau kepala batu
Kau egois, Aku sinis
Kita tak serasi dalam banyak sisi
Kita jarang seirama dalam banyak nada
Kita sering tidak sepakat dalam banyak itikad

Aku,
Pernah parah terluka, terhujam perih merana
Masih Ku padamu mencinta
Kamu,
Pernah pedih, perih terkhianati
Tetap Kau padaku kembali

Tanpa pernah Ku Kau sakiti, tak mampu ku neracai setia
Tanpa pernah Kau Ku khianati, tak kau tahu mulia ikrar dan janji

Enam tahun sudah
Menyepakati bahagia dan airmata
Membiasakan satu dalam dua
Meng-Aku-kan kamu, meng-Kamu-kan Aku

Masih Aku untukmu dan selalu Kau untukku.

– MASIH DAN SELALU-

Posted: May 10, 2014 in Uncategorized
Tags: , , ,

Maka berlalu lah sudah.

Kecemasan 1095 hari yang lalu.

Saat ragu sempat deru menggebu,

mampukah tetap bersama bertarung dengan waktu.

 

Masih.

Tetap bersama, Kau dan Aku.

Hari ini seperti 3 tahun yang lalu.

 

Tak sedikit kau berlapang dada,

menghadapi mau dan inginku,

masih Aku yang Kau mau, selalu.

 

Tak jarang, ku bersabar sekuat tenaga

pada keras kepala dan amarah yang kau punya,

masih Kau yang Ku mau, selalu.

 

Masih,

Kau yang ku rindu, meski setiap hari lagi-lagi kau yang ku lihat selalu.

 

Selalu,

padamu ku bercerita, tentang segala keluh kesah.

Selalu,

Aku yang kau tuju, tuk meyakinkanmu, mengusir ragumu.

 

Atas segala perih dan tangis

Atas semua tawa dan suka cita

Untuk setiap luka dan sakit hati

dan demi seluruh rasa cemburu, godaan selingkuh dan tak pernah padamnya rindu.

 

3 tahun ini mendewasakan Aku dan Aku.

Masih Kau untukku dan selalu Aku untukmu.

 

21 April 2014

Arie Pr

E-MAIL UNTUK TUHAN

Posted: May 10, 2014 in Uncategorized
Tags: , , ,

Jakarta, 27 Juni 2013

 

Kepada,

YME Tuhan

Di tempat.

 

Hai Tuhan,

Maaf, belakangan Aku sering sibuk dengan semua tentang-ku

Hingga lupa, pada akhirnya semua adalah tentang-MU.

 

Hai Tuhan,

Akhir-akhir ini, Aku sering teringat pada-MU

Mungkin Kau rindu padaku, atau mungkin sebentar lagi waktuku.

 

Hai Tuhan,

Aku tahu,

Lidah ini tak sering lagi melafazkan asma-MU

Tangan ini terlalu lelah bekerja, hingga siku ku lupa akan takbir dan iftitah

Punggung ini terlalu lelah berkarya hingga lupa rukuk dan I’tidal, lupa pada Agung-MU lupa memuji -Mu sepenuh langit dan bumi.

Lutut ini terlalu sering ku luruskan hingga tak sempat menekuk, meluhurkan –MU dalam dua sujudku.

Kaki ini terlalu sering melangkah tanpa arah, hingga lupa menyimpuh diantara rakaatmu.

Kepala ini begitu semangat mendongak, hingga lupa merebahkan kesombongan dalam sujud dan tahyiat .

 

Hai Tuhan,

Meski demikian, Kau Maha Tahu.

Ada segumpal darah yang mutlak masih milik-MU,…Imanku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIA YANG HANYA AKAN MENDEKAT

Posted: May 10, 2014 in puisiku
Tags: , , ,

Dari hari yang tak pernah bermula
Hingga hari yang tak pernah berakhir
Ada kepastian yang tak tahu pasti
Yang mau tak mau akan kita tuju.

Aku, berIman pada Akhir-Mu
Meski di perjalanan, titahMU, tak selalu menjadi haluanku.

Waktu, bila saat itu akan tiba.
Tibalah pada masanya.
Menjauh tak ada guna
Karena dia tahu pasti arah.

Ketika harus aku menyerah,
Bukan karena tak berdaya
Sederhana karena iman dan percaya.

Saat waktu ku mendahului waktumu
Kenanglah aku dalam tawa,
Dalam ceria,
Dalam suka cita.

Aku mungkin tak cukup kuat mendampingi hingga di sana
Namun hingga saat ku tiba, ku kuatkan segalanya.
Mendekat ku dalam kejauhan, menjauh ku dalam kedekatan.
-10 May 2014-

DEMI!,

Posted: September 4, 2012 in puisiku, Story Of Life, Uncategorized
Tags: , , ,

Demi,

Aku benci, harus mengakui
Ku tepis lebih dari semua manis nikmat duniawi
Untuk setiap getir dan pahitmu.

Demi,

Aku mencintamu bukan karena akibat
Sebablah, yang membuat ku tulus padamu mengikat.

Demi,

Bahkan, lara mu menjadi mulia bagiku untuk menyeka
Bahkan, sedih mu menjadi ikhlas padaku untuk menderma
Bahkan, pada setiap tetes airmata mu, menjadi suci untukku memelukmu, menggadai senyumku.

Demi,

Bila mungkin Aku bukan terbaikmu,
Biarlah Kau sempurna menjadi Akhirku.

Demi!,