Jakarta is the best home for a show off rich people who have lacked of social cares! Yep, i am writing this now.

Let me give one small true fact. Ketika pertama kali mengunjungi Negeri Kangguru,bukanlah megah bangunan serta indah infrastruktur kota sana yang membuat saya ter-wow-kan. Karena bagi saya sudah menjadi pemandangan lumrah dan lazim untuk sebuah kota sekelas Melbourne dan Sydney yang menempati peringkat ke-3 dan ke-5 sebagai Kota dengan cost living termahal di dunia memiliki “make up” kota yang indah dan megah, adalah pemandangan di sepanjang jalan raya yang membuat saya tercengang. Di kota yang menjadi bagian dari kota ter-mahal di dunia tersebut, saya justru hampir tidak bisa mendapati adanya mobil mahal dengan brand terkenal di lengkapi desain mutakhir dan teknologi terdepan seperti yang biasa saya lihat sehari-hari di Jakarta, ibukota tercinta. Serius, ga habis pikir koq bisa yah Jakarta yang dikenal dunia sebagai bagian dari negara dengan predikat miskin di dunia justru padat penuh jalan raya nya dengan barisan mobil yang kebanyakan mencapai harga miliaran rupiah.

Di Melbourne dan Sydney, lebih dari 85% mobil yang di miliki warga nya hanya lah mobil sangat sederhana dengan budget rendah. Satu keluarga di sana rata-rata hanya memiliki satu mobil, meski saya yakin mereka mampu untuk membeli mobil mahal dengan teknologi ter-mutakhirkan seperti kebanyakan orang kaya di Jakarta. Tapi tidak bagi mereka di sana. Karena setelah berbincang-bincang dengan beberapa orang sana, mereka menganggap untuk apa menghabiskan uang ratusan juta hingga miliaran hanya untuk sebuah mobil yang hanya akan menambah macet jalanan dan pada akhirnya justru gak bisa maksimal kegunaannya di jalan.

Pemerintah Kota sana justru menerapkan kebijakan pajak yang sangat teramat mahal untuk mobil mewah dengan kepemilikan lebih dari satu unit. Gunanya adalah semata-mata agar orang-orang kaya disana jera dan berfikir ulang sebelum membeli mobil mewah tersebut. Selain pajak mahal, pemerintah juga menerapkan kebijakan menaikkan harga bensin untuk kendaraan mewah dan benar-benar konsisten menjalankan serta memonitor nya. jadi prinsip “Mobil mewah, biaya Mahal” benar-benar berjalan efektif. Hal ini lah yang membuat tingkat perbedaan dan jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin disana tidaklah begitu tinggi.

Bandingkan dengan Jakarta, Kota dengan populasi terpadat ke-4 di dunia (9.373.900 jiwa), perbedaan antara “si kaya” dan “si miskin” makin nyata setiap harinya. Yang kaya tambah mewah dan semakin sombong, yang miskin tambah sengsara dan semakin melarat.

Oh.., Jakarta..”Ibukota(orang kaya) Tercinta”.

DEMI!,

Posted: September 4, 2012 in puisiku, Story Of Life, Uncategorized
Tags: , , ,

Demi,

Aku benci, harus mengakui
Ku tepis lebih dari semua manis nikmat duniawi
Untuk setiap getir dan pahitmu.

Demi,

Aku mencintamu bukan karena akibat
Sebablah, yang membuat ku tulus padamu mengikat.

Demi,

Bahkan, lara mu menjadi mulia bagiku untuk menyeka
Bahkan, sedih mu menjadi ikhlas padaku untuk menderma
Bahkan, pada setiap tetes airmata mu, menjadi suci untukku memelukmu, menggadai senyumku.

Demi,

Bila mungkin Aku bukan terbaikmu,
Biarlah Kau sempurna menjadi Akhirku.

Demi!,

Dalam keterpurukan dan ketiadaan

Kau membuat ku kaya.

Kau, kesederhanaan dalam kerumitanku

Mengendap redamkan buncahan egoku dengan seadanya dirimu.

Sungguh.., ku memuja caramu menerimaku.

Tak sedikit luka ku sayat di hatimu

Kau terima dengan senyum teduhmu.

Tak ku nafkahi kau dengan kecukupan

Tapi kau cukupkan dengan mencukupi inginku.

Segala ragu yang dulu pernah membatu di hatiku

Kau leburkan dengan sabarmu.

Aku takluk pada caramu mencintaiku..aku mengaku!

Kau memutih pada hitamku.

Posted: November 11, 2011 in puisiku
Tags: , ,

Pernah gak kalian melakukan aktivitas cuci piring? itu loh aktifitas membersihkan alat-alat masak dan makan minum yang kotor..ah meski mungkin aktifitas ini tidak melulu menjadi aktifitas rutin bagi sebagian orang namun sekali dalam hidupnya setiap kita pasti secara sengaja atau tidak sengaja terpaksa maupun tidak, pernah melakukannya.

Meski tergolong aktifitas ringan, namun kalian tahu gak bahwa mencuci piring juga tidak serta merta dapat kita katakan mudah dan bisa sekenanya,lho! Serius..,coba deh simak asal usul usil di bawah ini.

Siap kah..?

Siapkan!

Di mulai..

Mencuci piring dan alat-alat masak dan makan minum, ternyata membutuhkan tidak hanya kecekatan dan kecepatan tapi juga keteraturan dan kesabaran untuk mengikuti tahap-tahapnya.

Dulu waktu kecil, saya kerap disuruh Ibu untuk mencuci piring setiap kali selesai makan atau selesai memasak. Ibu, di setiap kesempatan itu pula berulang kali tanpa jera dan henti, mengingatkan untuk mencuci piring dengan hati, seni dan teliti. Sesering itu pula saya ngedumel dan menggerutu dalam hati..” apa seh Ibu ini, lah wong cuma cuci piring aja koq yah kayaknya seribet dan sengejeliwet rumus gravitasi!”.

Tapi bener rupanya ternyata memang tidak semudah dan sesimple isi otak kekanak-kanakan saya.

Dengan asal yang penting cepat selesai, saya mencuci piring seadanya, yang penting piring, sendok, gelas, dan alat-alat masak bebas dari kotoran yang menempel, itu yang ada dalam benak saya ketika itu. Maka mulai lah saya menyabuni seluruh piring gelas sendok beserta sekutu-sekutunya itu seperti panci, penggorengan, cobek, dll. Gak ada 5 menit semua selesai. Lalu aku pun melapor kepada Ibu, bahwa pekerjaan mencuci piring ku sudah selesai dengan harapan aku bisa langsung melanjutkan aktifitas yang paling aku gemari saat kecil..bermain!.

Tapi kemudian Ibu mengajak ku kembali ke dapur untuk memeriksa hasil pekerjaan mencuci piring ku tersebut. Ajaib, Ibu dengan sepersekian detik tanpa tedeng aling-aling tanpa kompromi tanpa surat somasi, langsung menyuruh aku mengulangi mencuci piring sedari awal karena menurut hasil pengamatan akademisnya(sedikit berlebihan seh) tugas mencuci piring ku sama sekali belum selesai. Aku terpaksa harus menunda kegiatan bermain ku karena urusan sepele sebiji upil  ini, huh..!

Sambil menggerutu aku pun memulai kembali memasukan tumpukan alat makan minum dan masak yang tadi sudah ku bersihkan kembali ke dalam bak dan menyiraminya dengan air, lalu ku sabuni sekenanya dan ku bilas seadanya. Fikir ku ketika itu, palingan juga setelah di sabuni dan di bilas kan yang penting kotoran sudah hilang kabur dari permukaan, selesai.

Kembali ku menghadap dan melapor ke Ibu, mendeklarasikan bahwa tugas ku mencuci piring kali ini benar-benar sudah selesai. Seperti persis laporan pertama, tak lama Ibu memeriksa tumpukan piring gelas dan alat masak yang sudah ku atur berletakan sangat rapih dan kering di rak piring. Tapi Ibu kembali menyatakan bahwa itu belum selesai..bahkan kali ini dia menambahkan bahwa itu jauh dari selesai.

Aku kesal sekaligus penasaran, apa dan dimana yang belum selesai, padahal aku yakin telah sungguh sungguh menyabuni dan membilas semua alat makan dan masak itu dan mengeringkannya dengan benar serta menempatkannya kembali ke posisi indah di rak sesuai porsinya, tapi masih saja Ibu bilang ini belum selesai! Bah, aku ga terima! Entah karena kesel hasil kerja ku tak mendapat appresiasi yang cukup dari Ibu atau karena aku resah gelisah karena teman-teman ku di luar sudah menunggu kehadiran ku untuk bermain bersama. Dengan hak angket bertanya yang memang sudah sedari kecil di erat lekatkan pada ku, aku pun bertanya, ” Ibu apa-apan seh, masa tanpa sama sekali menyentuh hasil pekerjaanku koq dengan mudahnya Ibu bilang hasil kerja ku belum selesai?!” dengan senyum yang tetap selembut dan sehangat pelangi Ibu berkata ” Ibu tahu kau sudah mencoba, tapi kau tidak mengindahkan  rumus mencuci piring yang Ibu ajarkan, yaitu mencuci dengan hati, seni dan teliti ” Aku kembali bertanya ” Lah kan yang penting semua kotoran yang melekat sudah hilang memang apa lgi yang kurang,Bu? ” Ibu menjawab ” Mari lihat yang Ibu lakukan dan setelah selesai kau bisa temukan jawaban yang kau tanyakan,Nak..

Kemudian Ibu menaruh seluruh peralatan makan dan memasak yang tadi sudah ku cuci ke dalam bak. Kemudian Ibu memenuhi isi bak tersebut dengan air dan membiarkan piring gelas dan alat masak tersebut terendam di dalamnya. ” Ah, so far itu seh aku tahu, kan emang tadi juga aku begitu koq! ” gumam ku dalam hati. Lalu Ibu mulai menyabuni gelas, sendok, piring dan secara berurutan pula mulai membilasnya persis sesuai urutan menyabuninya, yaitu membilas gelas terlebih dahulu, lalu sendok, kemudian piring dan mangkuk. Rasa penasaran ku menggelitik untuk bertanya, ” Ibu, apa bedanya seh, menyabuni dan membilas secara acak, ga harus sesuai urutan gelas dulu,baru sendok dan kemudian piring dan mangkuk? ” sambil tetap membilas ibu pun menjelaskan bahwa mencuci dan membilas Gelas di urutan pertama bermakna, bahwasannya alat minum yang satu ini ketika di pakai sangat sedikit terkotori, oleh sebab itu harus di cuci dan di bilas di urutan pertama agar menghindari tercampur dengan kotoran lain yang melekat di piring dan mangkuk dan atau alat masak lainnya. Juga karena gelas cenderung sangat peka terhadap bau dan nyengat rasa karena haikkat penggunaanya yang sangat dekat dengan hidung kita.

Segera setelah gelas tersebut bersih dan kering, Ibu melanjutkan mencuci dan membilas sendok, piring dan mangkuk dengan meninggalkan alat-alat masak seperti panci, penggorengan dan rekan-rekannya di urutan terakhir. Penjelasan ibu demikian, seperti halnya gelas, sendok, piring dan mangkuk memiliki kepekaan sendiri terhadap jenis kotoran. Bila mereka menyatu dan di sabuni serta di bilas bersamaan dengan alat-alat memasak maka besar kemungkinan piring dan mangkuk serta sendok tersebut akan terimbas dan terkena kotoran serta bau yang melekat di alat memasak, alhasil sendok, piring dan mangkuk tersebut akan menjadi sulit bersih dan susah wangi.

Dan terakhir, setelah sendok, piring dan mangkuk tersebut bersih dan kering maka mulai lah Ibu membersihkan alat memasak sebagai bagian terakhir dari proses mencuci piring. Segerat setelah seluruh proses mencuci itu selesai, Ibu menambahkan penjelasannya sekaligus menjadi closing statement yang hingga kini masih dengan jelas kuingat dan ku terapkan. Demikian Ibu berpesan, hanya dengan mencium bau yang melekat di gelas sudah cukup membuktikan apakah proses mencuci piring itu di lakukan dengan hati, seni dan teliti atau tidak.

Dalam proses mencuci piring yang kulakukan pertama dan kedua, ibu dengan mudah bisa memastikan bahwa proses yang kulakukan tidak dengan hati, seni dan teliti, karena aku serta merta mencampur dan membersihakn semua alat makan, minum dam memasak secara bersamaan.., tidak sesuai urutan, terbuktilah dengan indera penciuman Ibu yang maha tajam itu, gelas yang ku cuci ternyata meninggalkan bau makanan yang terlebih dahulu telah melekat di sendok, piring, mangkuk dan alat memasak. Ini terjadi karena aku melakukannya tidak dengan sepenuh hati, lalu mencampur baurkan urutan pencucian dan tidak mengindahkan seni dan tidak lagi kuperhatikan ketelitian yang mendasari hasil bersih dan wangi dari proses mencuci piring ini.

 

Ah, Ibu..kau memang manusia sederhana tapi super sempurna, bahkan melaui proses mencuci piring ini juga kau tanamkan 3 pelajaran penting yang kini ku sadari sangat berguna dalam keseharian ku di pekerjaan, atau apapun juga. Yah setiap pekerjaan yang menjadi tugas kita mestilah di lakukan dengan hati, hingga hasil yang kita dapat akan juah lebih bernilai seni dan dengan seni itulah secara sadar ataupun tidak menuntun kita untuk menjadi selalu teiliti.

Thanks Mom..You’re the best lah;-)

PEMBENARAN vs KEBENARAN

Posted: August 26, 2011 in Uncategorized

“Gay itu bukan Dosa koq!. Kita juga gak meminta menjadi terlahir seperti ini!. Tuhan yang nentuin kita jadi begini..”.

Mungkin kalimat lantang penuh semangat berapi-api seperti ini kerap kali kita dengar dari teman-teman Gay di sekitar kita tiap kali dengan atau tanpa sengaja kita terjebak pada topik pembicaraan perihal Gay dan Ketuhanan. Saya termasuk pribadi yang cenderung menghindari topik pembicaraan bergenre ini, tapi tak dapat di pungkiri, di satu dua kesempatan, mau tidak mau saya harus (meski terpaksa) menjadi makmum dalam topik berjamaah ini.

Saya mengakui, saya memilih menjadi Gay. Terlepas dari keyakinan yang saya imani, pada usia dan fase kematangan perjalanan hidup saya sekarang ini, saya  memilih untuk menikmati pilihan yang sudah terpilih dan penuh sadar diri, menyadari konsekuensi yang akan terjadi, kini atau nanti.

Palsafah saya simple dan ga muluk-muluk.

“Hidup di dalam Keterpaksaan dan berpura-pura adalah kesengsaraan tak berujung”..,simple kan( ayo bersama-sama serentak jawab:Amieeeeennn!).

Maka, saya menjalani hidup saya sekarang dan sampai waktu yang tidak di tentukan, menjadi Gay, hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan akan di selesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (..nah lho, ngelantur deh, sorry Pak Karno dan Pak Hatta, ngutip dikit Timeline nya,hehe).

Nah , ketika tanpa sengaja saya terlibat dalam pembicaraan maha penting dan spektakuler bersama teman-teman saya mengenai gay dan Agama di suatu sore di bulan ramadhan di senja dikit-dikit lagi nyerempet buka puasa, teman saya nyeletuk, iseng bin keppo menanyakan perihal alasan saya tidak menjalani puasa meski di KTP saya berstatuskan Islam. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sekuat tenaga saya selalu menghindar dan enggan menjawabnya karena saya tahu persis, dari jawaban simple yang saya punya, akan menuntun saya dan teman debat saya pada sebuah ngarai curam nan terjal yang berpotensi menghadirkan jurang keyakinan yang akan memisahkan tempat berdirinya keyakinan saya dan mereka.

Tapi karena didesak tanpa ada peluang untuk mengelak sampai jujur saya akui, saya terhimpit sesak , akhirnya booom…duarrrr, meluncurlah kalimat jawaban singkat namun nyelesek…”Gw gak puasa karena gw tahu, selama gw gay,ibadah apapun termasuk puasa, ga akan di terima Tuhan!”.

Benar saja, sepersekian detik setelah jawaban saya terucap, sederet pertanyaan bertubi-tubi menghantam saya, seolah saya berada di sebuah persidangan pengadilan internasional yang di dakwa atas tuduhan kejahatan teroris tanpa di beri hak untuk mendapat perlakuan azas praduga tak bersalah.

Mereka marah, mereka gak terima, mereka menuduh, seolah saya bersalah, meski sedari awal bukan saya yang memaksa untuk membuka dan terlibat dalam pembicaraan benang kusut ini. Seperti halnya kebanyakan dari kita, cenderung semena-mena menempatakan seseorang yang tidak sejalan dengan pemikiran kita, sebagai pihak bersalah dan harus di persalahkan.

Akhirnya, karena batas benteng pertahanan saya di serang, mau tidak mau saya membela diri dengan mencoba memberikan pengertian yang saya anggap paling mudah untuk mereka cerna(semoga).

Alibi saya adalah demikian…,

Dalam Al-Qur’an termaktub jelas, bahwa Tidak ada Kebaikan(pahala) di dirikan di atas keburukan(dosa). Artinya, sebuah pekerjaan baik apapun namanya tidak akan terhitung sebagai ibadah berpahala di mata Tuhan, selama di kerjakan dengan cara-cara yang salah dan atau selama kita masih melakukan perbuatan-perbuatan berdosa. Nah ini jelas perkataan dan hukum Tuhan, tidak bisa di ubah, di timbang-timbang atau di toleransi. Ingat, Dia maha pembuat hukum, Dia tidak pernah salah dalam membuat peraturan di dunia ini.

Menjadi Gay atau Homoseksual adalah salah dan dosa ( sekali lagi, ini adalah keyakinan saya berdasarkan apa yang saya baca,pelajari dan amini). Selama saya masih memilih menjalani hidup sebagai Gay, ini berarti kegiatan Ibadah apapun yang saya lakukan tidak akan di terima dan di hitung sebagai ibadah berpahala. sesimple itu, sesederhana itu saya memaknai konsekuensi pilihan menjadi Gay ini.

Lalu kemudian, muncul sanggahan dari teman-teman saya , ” Lho kalau Lo tahu ini dosa, ngapain lo tetap jadi Gay?”

Jawaban saya, ..”Karena saya BELUM bisa untuk TIDAK menjadi gay!”. Lagi.., sesederhana itu saja.

Sebelum pembicaraan tersebut kian memanas dan meruncing, saya putuskan untuk memberi statement terakhir skaligus penutup yang saya maksudkan untuk menghindari perselisihan pendapat yang bukan pada tempatnya.

Saya yakinkan pada mereka, bahwa apa yang saya yakini tidak harus menjadi keyakinan orang lain, apa yang menjadi benar dan salah bagi saya, tidak mesti menjadi peluru tembak mematikan bagi keyakinan orang lain. Saya bukan malaikat yang selalu pasti akan benar. Yang bisa saya katakan adalah, saya memilih untuk tidak memelintir kebenaran wahyu Tuhan dalam kitab-Nya. Daripada sibuk sekuat tenaga membangun “Pembenaran sendiri” bukankah jauh lebih baik, mengakui salah dan berjiwa ksatria untuk siap menghadapi konsekuensi atas pilihan salah yang kita jalani.

Akan ada saatnya, dimana titik kesadaran kita tergugah untuk kembali memenuhi kodrat sejati kita. Kapan dan bagaimana, itu kuasa Tuhan dalam misteri ke mahasempurnaan skenario takdir-Nya.

Teringat petuah Almarhum Bapak yang dulu pernah berpesan…, “Jangan membenarkan hal yang salah dengan membuat kesalahan yang baru, Hitam tetap hitam, Putih tetap Putih.  Memastilah diri, jangan mengelabu“.

Semoga teman-teman saya yang saya sayangi itu, mampu memaknai ini dengan hati dingin tanpa amarah.

 

Bye.

SUDAH ENDAPKAN RAGUMU

Posted: July 18, 2011 in puisiku
Tags: , , ,

May 11, 2011

Percaya lah..,

Demi kepercayaan yang telah Kau percayakan kepadaku

Tak’kan Ku durhakai kemarin, kini dan nanti

 

Percayai..,

Selayaknya Aku penuh dengan titk saja tanpa koma, mempercayai mu

Maka seyogyanya, Kau mampu hargai itu

 

Duhai, tambatan hati

Tak sekali dua, Kau perangi Aku dengan curiga mu

Tak terbilang jumlah, Ku sesak meredam lara

 

Duhai, tambatan jiwa

Mengertilah…., demi Kau Aku rela,

Tempuhi sejuta dera dan siksa

Untuk bahagiamu

 

Tak satu detik pun dalam hidup

Ku lalui tanpa mencintaimu

 

Sudah…,Endapkan curigamu

Aku milik mu.

 

 

-…-

By:P’r

TUHAN CEMBURU

Posted: July 18, 2011 in puisiku
Tags: , , , , , , ,

Nov 06, 2010

Kenapa harus di besar-besarkan?

Hanya proses alami bumi,

Di buat-Nya, di jaga-Nya, di guncangkan-Nya

di hemburkan-Nya.., itu hak-Nya

Gunung merapi muntahkan isi perut bumi!

Memang sudah seharusnya.., begitu adanya

 

Yang pantas kita besar-besarkan, kiranya

Pekak tuli telinga mereka

Tak mau mendengar seru suara suaka

 

Di berkahi sudah mereka,

Dengan otak beserta kelengkapannya

Tapi, pandir nian sungguh jadinya

Mengabdikan diri, menghambakan jiwa

Mempatriotiskan raga pada si mbah, yang hanya manusia renta biasa

Yang justru hanya mengundang ramah petaka

 

Bukankah penghambaan seutuhnya hanya layak pada-Nya??!

 

Bukankah pantas, bila sekarang sang pencipta semesta murka

Ketika manusia sahaya, mensekutukan-Nya

Mendwikan kepasrahan, yang sejatinya, tunggal pada-Nya.

 

-…-

By: P’r