Posts Tagged ‘Gay’

Gampangnya gini, tadi pagi ada cewe marah2 di jalan karena ngerasa di lecehin sama pengendara motor yg lewat dan nyiulin si cewe yg berpakaian legging ketat sampe ngebentuk body shape-nya, plus warnanya totol-totol macan kuning mentereng.

Eke seh ngelihatnya simple yah: lo dapat apa yang lo tawarkan!

Klo lo ga mau di siulin sama laki-laki yah jangan kasih alasan si lelaki tersebut buat nyiulin lo!
Setahu eke gak ada lelaki yang nyiulin cewe berpakaian sopan.

Hidup tuh harus sepenuhnya–begitu orang bijak pernah bilang– dan eke rasa sangat relevan.

Kita harus berani tegas memproyeksikan diri kita mau jadi apa.
Kaitannya sm peristiwa siul-menjerit ini adalah: kalau lo mau seksi,- yah seksi sekalian, klo perlu nge-porn, jangan nanggung!
Atau klo gak mau yah tutup rapih dg cara elegan, asset(baca: tubuh) lo dengan pantas dan santun.

Lah bayangin aja, wong itu tuh pagi hari, wayahnya orang berangkat kerja, langit lagi terang benderang, jalan rame sama orang lalu lalang, trus tuh cewe pake legging super ketat ampe belahan pantat cetar nampak, gw rasa siulan itu jd sangat wajar dan relevan terarah tepat pada sasaran!

Coba tengok artis-artis porno/bokep. Mereka bejat….? Ok bisa jadi– tapi setidaknya mereka tahu persis apa yg mereka mau…ngejual syahwat. Jujur dan apa-adanya!

Apa iya ada cowo siul-siul-in artis cewek bokep yang sedang mereka tonton? Gak kan- yg ada mereka senyap sunyi kalem tenang menikmati tontonan tersebut(meski ada bagian tubuh lelaki itu yang rame menggerinjang). Simple karena jelas porno yang mereka cari dan jelas porno pulalah yang mereka lihat,- gak nanggung dan gak bias.

Selayaknya main badminton( eke hrs pake analogi ini karena kebetulan eke emang badminton freaker!), ketika lo mau return(ngembaliin) bola lawan, pilihannya cuma dua: angkat dan buang tinggi- atau turunin rendah sejadi-jadinya.

Gak ada tuh lo returning shuttlecock dengan bola awkward( baca: tanggung- tinggi kurang, rendah gak) kalo iya, yang ada lo bakal di smash balik, tajam, tanpa ampun. Bhay. Point buat lawan!

Anekdot ini gak ada hubungannya dengan salah satu agama…, aurat lah, hijab/jilbab lah, gamis lah- sama sekali gak!

Ini simple berkaitan dengan gimana kita berani dan tegas memproyeksikan diri mau porno dan terima resiko brutal dari alam atau santun sekalian dengan rasa aman dan nyaman.

Dan kalau mau fair mengkorelasikan dengan pengalaman pribadi eke, yah gampangnya begini…
Ketika eke pakai celana skinny jeans ke kantor, di padu padankan dengan sepatu slip on warna biru yang di lengkapi dengan manik warna-warni di slip on eke tersebut, maka dengan sangat kewajaran atau bahasa papuanya ‘fully self aware’ eke dengan senang hati dan fine-fine aja ketika terdengar ada orang bergunjing dan bilang eke ‘bencyong’..really,- that’s don’t freaking me out much!
Meski sejujurnya butuh waktu 100 tahun lagi dan mungkin lebih, untuk mengedukasi orang kita tentang bedanya Gay, Queer dan Transgender (atau yang sering brutally mereka sebut dengan istilah bencyong). tapi yang jelas, eke senyum dan senang-senang aja kok, karena emang eke sadar memutuskan bergrooming seperti itu yah reaksi nya seperti itu.

Bokap gw pernah bilang(semoga dia tenang di sana): Nang, hidup itu harus patuh mewarna, mau jadi hitam atau putih,- jangan abu-abu dan jangan mengelabu.

Siap komandan! Ngerti sekarang:)

8 agustus 2014.
Di warteg, belakang kantor, sesudah makan siang, ditemenin rokok dan es teh manis.

Selatan Jakarta, Indonesia.

Advertisements

MENJENIS

Posted: July 17, 2011 in puisiku
Tags: , , , , , ,

Maret 30, 2006

Ada yang memilih,

Memberi hitam dengan putih

Hingga kelabu lahir kini

Karena baginya

Kelabu hanya seimbangkan bisa

Pekat hitam dengan putih suci

 

Ada yang memilih,

Melukis biru dengan biru

Hingga yang ada kian biru

Karna baginya,

Hanya biru yang bisa membirukan biru

 

Lalu salahkah,

Memilih biru hanya,menepis banyak warna… menjenis warna?

Lalu,  haruskah selalu,

Menghitamkan putih,memputihkan hitam… memasang warna?

 

Layaknya mereka membiarkanmu memadankan hitam dengan putih

Maka selama gambarmu tak rusak oleh biru,

Biarkanlah,

Mereka yang menjenis warna biru dengan biru

-…-

By: P’r