Posts Tagged ‘puisi’

21 April 2016

Pernah luluh lantah langit tempat kita beratap
Pernah porak poranda bumi tempat kita berpijak
Sudah prahara terlewati berdua
Dalam pengembaraan kita, temukan arah
Hampir tergadai janji setia

Aku mencinta pada egomu,
Kau mendamba pada kerasku
Aku dan Kamu, mengego keras pada cinta

Kau keras, Aku tegas
Aku tak tahu malu, Kau kepala batu
Kau egois, Aku sinis
Kita tak serasi dalam banyak sisi
Kita jarang seirama dalam banyak nada
Kita sering tidak sepakat dalam banyak itikad

Aku,
Pernah parah terluka, terhujam perih merana
Masih Ku padamu mencinta
Kamu,
Pernah pedih, perih terkhianati
Tetap Kau padaku kembali

Tanpa pernah Ku Kau sakiti, tak mampu ku neracai setia
Tanpa pernah Kau Ku khianati, tak kau tahu mulia ikrar dan janji

Enam tahun sudah
Menyepakati bahagia dan airmata
Membiasakan satu dalam dua
Meng-Aku-kan kamu, meng-Kamu-kan Aku

Masih Aku untukmu dan selalu Kau untukku.

Advertisements

– MASIH DAN SELALU-

Posted: May 10, 2014 in Uncategorized
Tags: , , ,

Maka berlalu lah sudah.

Kecemasan 1095 hari yang lalu.

Saat ragu sempat deru menggebu,

mampukah tetap bersama bertarung dengan waktu.

 

Masih.

Tetap bersama, Kau dan Aku.

Hari ini seperti 3 tahun yang lalu.

 

Tak sedikit kau berlapang dada,

menghadapi mau dan inginku,

masih Aku yang Kau mau, selalu.

 

Tak jarang, ku bersabar sekuat tenaga

pada keras kepala dan amarah yang kau punya,

masih Kau yang Ku mau, selalu.

 

Masih,

Kau yang ku rindu, meski setiap hari lagi-lagi kau yang ku lihat selalu.

 

Selalu,

padamu ku bercerita, tentang segala keluh kesah.

Selalu,

Aku yang kau tuju, tuk meyakinkanmu, mengusir ragumu.

 

Atas segala perih dan tangis

Atas semua tawa dan suka cita

Untuk setiap luka dan sakit hati

dan demi seluruh rasa cemburu, godaan selingkuh dan tak pernah padamnya rindu.

 

3 tahun ini mendewasakan Aku dan Aku.

Masih Kau untukku dan selalu Aku untukmu.

 

21 April 2014

Arie Pr

E-MAIL UNTUK TUHAN

Posted: May 10, 2014 in Uncategorized
Tags: , , ,

Jakarta, 27 Juni 2013

 

Kepada,

YME Tuhan

Di tempat.

 

Hai Tuhan,

Maaf, belakangan Aku sering sibuk dengan semua tentang-ku

Hingga lupa, pada akhirnya semua adalah tentang-MU.

 

Hai Tuhan,

Akhir-akhir ini, Aku sering teringat pada-MU

Mungkin Kau rindu padaku, atau mungkin sebentar lagi waktuku.

 

Hai Tuhan,

Aku tahu,

Lidah ini tak sering lagi melafazkan asma-MU

Tangan ini terlalu lelah bekerja, hingga siku ku lupa akan takbir dan iftitah

Punggung ini terlalu lelah berkarya hingga lupa rukuk dan I’tidal, lupa pada Agung-MU lupa memuji -Mu sepenuh langit dan bumi.

Lutut ini terlalu sering ku luruskan hingga tak sempat menekuk, meluhurkan –MU dalam dua sujudku.

Kaki ini terlalu sering melangkah tanpa arah, hingga lupa menyimpuh diantara rakaatmu.

Kepala ini begitu semangat mendongak, hingga lupa merebahkan kesombongan dalam sujud dan tahyiat .

 

Hai Tuhan,

Meski demikian, Kau Maha Tahu.

Ada segumpal darah yang mutlak masih milik-MU,…Imanku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIA YANG HANYA AKAN MENDEKAT

Posted: May 10, 2014 in puisiku
Tags: , , ,

Dari hari yang tak pernah bermula
Hingga hari yang tak pernah berakhir
Ada kepastian yang tak tahu pasti
Yang mau tak mau akan kita tuju.

Aku, berIman pada Akhir-Mu
Meski di perjalanan, titahMU, tak selalu menjadi haluanku.

Waktu, bila saat itu akan tiba.
Tibalah pada masanya.
Menjauh tak ada guna
Karena dia tahu pasti arah.

Ketika harus aku menyerah,
Bukan karena tak berdaya
Sederhana karena iman dan percaya.

Saat waktu ku mendahului waktumu
Kenanglah aku dalam tawa,
Dalam ceria,
Dalam suka cita.

Aku mungkin tak cukup kuat mendampingi hingga di sana
Namun hingga saat ku tiba, ku kuatkan segalanya.
Mendekat ku dalam kejauhan, menjauh ku dalam kedekatan.
-10 May 2014-

SUDAH ENDAPKAN RAGUMU

Posted: July 18, 2011 in puisiku
Tags: , , ,

May 11, 2011

Percaya lah..,

Demi kepercayaan yang telah Kau percayakan kepadaku

Tak’kan Ku durhakai kemarin, kini dan nanti

 

Percayai..,

Selayaknya Aku penuh dengan titk saja tanpa koma, mempercayai mu

Maka seyogyanya, Kau mampu hargai itu

 

Duhai, tambatan hati

Tak sekali dua, Kau perangi Aku dengan curiga mu

Tak terbilang jumlah, Ku sesak meredam lara

 

Duhai, tambatan jiwa

Mengertilah…., demi Kau Aku rela,

Tempuhi sejuta dera dan siksa

Untuk bahagiamu

 

Tak satu detik pun dalam hidup

Ku lalui tanpa mencintaimu

 

Sudah…,Endapkan curigamu

Aku milik mu.

 

 

-…-

By:P’r

SELAMAT ULANG TAHUN

Posted: July 18, 2011 in puisiku
Tags: , ,

Nov 02, 2010

Dengar,

Aku memang tak selalu bisa

Menggenapi cangkir harap mu

Dengan mampu ku.

Maaf, … aku tak genap

 

Dengar,

Meski telah ku coba

Menyempurnakan ingin mu

Dengan batas sanggup ku

Maaf,…  aku tak sempurna

 

Sungguh, telah ku cari ke seluruh ruang berpeluang

Untuk mendapatkan sesuatu yang bisa ku persembahkan

Sebagai ungkapan lambang kesyukuran

Atas semua yang telah kau berikan

 

Namun, jujur harus ku akui

Aku gagal!

 

Tak mampu aku temukan

Bingkisan hadiah ulang tahun mu

Yang mampu melukiskan rasa terima kasih ku

 

Hanya mampu ku ukir pahatan asa dan janji

Untuk selalu membawa mu dalam hati

 

Terimalah hadiah terindah ku untuk ulang tahun mu

Hatiku yang akan selalu untuk mu…

 

-…-

By:P’r

WASIATKU

Posted: July 18, 2011 in puisiku
Tags: , , ,

Jan 24, 2006

Untuk cucu ku, jika kelak kau ber-kakek-kan Aku

Wasiat ku, jadikan arah dalam langkah mu.

 

Biarkan banyak mulut terbuka untuk mu

Tapi,

Tutup rapat mulut mu untuk mereka

Karena mulut selalu berpintu.

 

Untuk cucu ku, jika kelak Kau ada

Wasiat ku, jadikan arah dalam langkah mu.

 

Biarkan mereka busungkan dada di hadapan mu

Cukupkan diri berpuas diri,

Dengan hanya lapangkan dada.

 

Untuk cucu ku, jika kelak Aku yang tiada

Wasiat ku, jadikan arah dalam langkah mu.

 

Jangan mengerti Isi

Hanya dari sampul surat

Tapi,

Pujilah Dia yang sudah memuluskan niat.

 

Untuk cucu ku, jika kelak kau dapat mengerti kata

Wasiat ku, jadikan arah dalam langkah mu.

 

Tuhan telah bertaruh optimis

Dengan Malaikat suci dan Iblis penuh najis

Tentang manusia yang mereka nilai pesimis

 

Untuk cucu ku, jika kelak tulisan ini masih terbaca

Wasiat ku, jadikan arah dalam langkah mu

 

Membenci lah pada cinta,

Mencinta lah pada benci

Maka akan tertimbang sama, rasa.

Untuk cucu ku, jika kelak kau selesai membaca

Wasiat ku, jadikan arah dalam langkah mu

 

Tebar rata wasiat ku ini

Padanya, pada dia dan pada mereka semua

Agar kelak mereka tahu

Aku yang menulis ini.., dulu pernah ada.

-..-

By:P’r